LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SUMUT

Apa yang Dimaksud dengan Anak Mandiri? Begini Cara Mendidiknya

Apa yang dimaksud dengan anak mandiri? Tak bisa dipungkiri, banyak orang tua menginginkan anaknya mandiri. Apa yang dimaksud dengan anak mandiri yaitu anak bisa mengurus diri sendiri terutama jika itu menyangkut kegiatan sederhana.

2022-11-22 20:00:00
Sumut
Advertisement

Apa yang dimaksud dengan anak mandiri? Tak bisa dipungkiri, banyak orang tua menginginkan anaknya mandiri. Apa yang dimaksud dengan anak mandiri yaitu anak bisa mengurus diri sendiri terutama jika itu menyangkut kegiatan sederhana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemandirian diartikan dengan hal atau keadaan seseorang dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada orang lain.

Tetapi apa yang kebanyakan orang tua tidak sadari adalah bahwa untuk membesarkan anak-anak dengan kualitas-kualitas ini, mereka harus menentang nasihat pengasuhan tradisional.
Memaksa anak-anak untuk patuh, menghukum mereka karena perilaku buruk dan mendorong mereka keluar dari zona nyaman mereka (bukan mengarahkan mereka) semuanya membuat anak-anak merasa tidak aman, penakut, dan tidak mampu berpikir sendiri.

Advertisement

Agak berlawanan dengan intuisi, anak-anak lebih cenderung menjadi mandiri di lingkungan di mana mereka didukung, didengar, dan diizinkan untuk berekspresi dan menjadi diri mereka sendiri sebanyak mungkin.

Teknik pengasuhan ini juga sering mengarahkan anak ke arah perilaku yang lebih baik dan ikatan orang tua/anak yang lebih dekat dan damai. Berikut selengkapnya merdeka.com merangkum seluk beluk apa yang dimaksud dengan anak mandiri di bawah ini:

Advertisement

Apa yang Dimaksud dengan Anak Mandiri?

Apa yang dimaksud dengan anak mandiri adalah adalah kemampuan anak untuk bisa melakukan berbagai kegiatan, mengatur dan memilih serta memutuskan dengan percaya diri juga penuh bertanggung jawab.

Kemandirian berarti bahwa anak telah mampu bukan hanya mengenal mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Definisi lain menurut Einon kemandirian anak usia dini ialah kemampuan anak untuk melakukan perawatan terhadap diri sendiri, seperti makan, berpakaian, ke toilet dan mandi.

Jadi bisa disimpulkan apa yang dimaksud dengan anak mandiri adalah kemampuan anak untuk tidak tergantung atau tidak membutuhkan bantuan orang lain dalam merawat dirinya secara fisik (makan sendiri tanpa disuapi, berpakaian sendiri tanpa dibantu, mandi dan buang air besar serta kecil sendiri), dalam membuat sebuah keputusan secara emosi, dan dalam berinteraksi dengan orang lain secara sosial.

Cara Membesarkan Anak Menjadi Anak Mandiri

Melatih anak mandiri bukan dengan melepaskan mereka begitu saja dan membiarkan mereka melakukan semuanya sendirian. Lebih dari itu, anak paham apa yang mereka lakukan dan berani mengambil tanggung jawab serta mengenali dampaknya perilaku mereka. Berikut cara membesarkan anak menjadi anak yang mandiri yang bisa dilakukan orang tua:

Membentuk Keterikatan yang Kuat

Karena anak-anak belum dewasa dan rentan, mereka mencari keamanan untuk membangun rasa percaya diri mereka. Dan tidak ada yang memberikan keamanan yang lebih besar kepada seorang anak selain orang tua atau pengasuh. 

Jika orang dewasa penting ini mendorong anak-anak ke dalam situasi yang membuat stres dan menakutkan, terutama tanpa mengakui ketakutan atau kekhawatiran anak - anak-anak, ini dapat membuat mereka merasa tidak aman dan karena itu cenderung untuk bertindak kurang mandiri. 

Tetapi bagi anak-anak yang memiliki hubungan yang aman, penuh kasih, dan suportif dengan orang tuanya, hal yang sebaliknya terjadi. Ketika anak-anak tahu bahwa orang tua mereka dengan hormat akan mendukung dan mengasuh mereka, itu akan membangun rasa percaya diri mereka dan, pada waktunya, memungkinkan mereka menunjukkan kemandirian yang lebih besar. 

Biarkan Anak-Anak Mengekspresikan Perasaan dan Latih Emosi Mereka

Seringkali orang tua berasumsi bahwa membiarkan anak mereka mengekspresikan emosi yang kuat seperti kemarahan, ketakutan atau kekecewaan akan membuat mereka menjadi tidak disiplin dan impulsif. Dan untuk menghindari hasil ini, orang tua menghukum anak mereka karena merasakan emosi itu atau menyuruh mereka berhenti mengungkapkannya.

Meskipun regulasi emosi  sangat  penting untuk menunjukkan kepercayaan diri dan kemandirian, anak-anak tidak akan pernah belajar regulasi dengan cara dihukum atau disuruh menekan emosi.

Sebenarnya, semua perasaan dan emosi itu alami. Tidak ada salahnya marah karena saudara laki-laki mengambil mainan, misalnya, atau merasa kecewa karena tidak bisa makan kue setelah makan siang.

Meluangkan waktu untuk melatih emosi anak-anak dan dengan demikian meningkatkan regulasi emosi memungkinkan anak-anak untuk semakin berfungsi di dunia secara mandiri dari kita. Dan itu memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk menjaga hubungan yang sehat dan aman sekarang dan di masa depan. 

Biarkan Anak-Anak Berbicara

Nasihat pengasuhan konvensional menunjukkan bahwa anak-anak tidak boleh berbicara di luar batas atau menentang keinginan, keinginan, atau pendapat orang tua mereka.

Namun seperti membiarkan semua perasaan, anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan berbicara, sebagai sarana belajar berpikir sendiri. Dan rumah adalah tempat terbaik untuk mempraktikkannya. 

Meskipun membiarkan pembicaraan balik yang kasar atau tidak sopan tidak terkendali juga tidak membantu anak-anak, orang tua dapat melatih anak-anak tentang cara menyuarakan pikiran dan perasaan mereka dengan hormat. 

Misalnya, jika seorang anak berteriak untuk menyampaikan maksud mereka, orang tua dapat dengan hormat menyatakan: “Ibu ingin mendengar apa yang kamu katakan tetapi sebagai aturan Ibu tidak mendengarkan orang yang membentak Ibu. Ibu akan menunggu sampai kamu dapat mengungkapkan pendapatmu dengan suara tenang.”

Berikan Batasan yang Konsisten dan Disiplin Positif

Seringkali orang tua percaya bahwa untuk membesarkan anak-anak yang menyesuaikan diri dengan baik, mereka harus mengajari mereka untuk patuh.

Dan sementara anak-anak perlu mempelajari perilaku yang benar, anak-anak yang hanya diajari untuk patuh tidak diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru yang mendorong pemikiran mandiri. 

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak belajar disiplin paling baik melalui cara-cara yang positif, atau lebih tepatnya, disiplin yang baik dan tegas, bukan diktator.

Ketika orang tua memvalidasi perasaan dan pendapat anak mereka dan menunjukkan empati, sementara pada saat yang sama menjunjung tinggi aturan dan batasan, anak merasa lebih aman dan percaya diri. Dan mereka lebih cenderung menyerap pelajaran yang orang tua ingin mereka pelajari. 

Menciptakan hubungan kolaboratif berdasarkan pemecahan masalah

Saat anak-anak menjadi dewasa dan mulai berpikir sendiri, orang tua dapat berusaha untuk membentuk hubungan kolaboratif dengan mereka dengan fokus pada pemecahan masalah.

Hubungan kolaboratif ini, seperti yang dijelaskan oleh Ross Greene, penulis buku, Raising Human Beings, terdiri dari orang tua yang pertama-tama mendengarkan dan mengumpulkan informasi dari anak ketika perilaku buruk terjadi. Ini berlanjut dengan mendorong dan mendukung anak untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. 

Strategi ini tidak hanya lebih berhasil mendidik anak, tetapi juga menghasilkan hubungan orang tua anak yang lebih damai dan sehat. 

Dan itu mendorong pola pikir pemecahan masalah pada anak-anak, sebuah blok bangunan utama untuk menjadi pemikir mandiri di masa dewasa. 

Mendorong Tanggung Jawab

Tanggung jawab dan kemandirian berjalan beriringan. Semakin bertanggung jawab anak-anak kita dapat bertindak, semakin tidak bergantung mereka pada kita. 

Orang tua dapat mulai mendorong pola pikir membantu sejak usia muda, sejak usia dua tahun, dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga dan tugas-tugas kecil. 

Membuat anak-anak memulai tugas adalah cara lain untuk membangun rasa tanggung jawab pada anak-anak. Misalnya, anak-anak dari segala usia dapat membantu mencuci pakaian, membersihkan dan membereskan piring, atau menyiapkan makan siang mereka sendiri. 

Itulah apa yang dimaksud dengan anak mandiri beserta cara mendidiknya yang bisa menjadi wawasan orang tua.

(mdk/amd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.