LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SEHAT

Ketahui Gejala Osteoporosis, Penyakit Mengintai Sejak Usia Muda dan Baru Disadari Saat Tulang Patah

Osteoporosis dikenal sebagai penyakit diam karena sering kali tidak menunjukkan gejala, yang dapat berujung pada patah tulang.

Jumat, 24 Okt 2025 14:00:00
osteoporosis
Dokter Spesialis Ortopedi, dr. Aldico Sapardan, Sp.OT., CF dalam Acara "The Science Behind: A Series of Bayer Media Classes, Kamis (23/10/2025) siang, Jakarta Pusat. (© 2025 Liputan6.com)
Advertisement

Dokter spesialis ortopedi, dr. Aldico Sapardan, Sp.OT., CF., menjelaskan bahwa osteoporosis merupakan kondisi di mana kepadatan tulang berkurang, sehingga membuat tulang menjadi rentan dan mudah patah. Salah satu faktor utama yang menyebabkan osteoporosis adalah kurangnya asupan kalsium dan vitamin D setiap harinya.

Menurut Aldico, osteoporosis termasuk dalam kategori penyakit progresif yang sering kali tidak terdeteksi sampai penderita mengalami patah tulang. Penyakit ini bahkan dikenal sebagai silent disease karena tidak menunjukkan gejala yang jelas.

"Sering kali didiagnosis hanya setelah penderita mengalami fraktur," ungkap Aldico dalam acara The Science Behind: A Series of Bayer Media Classes yang diadakan pada Kamis, 23 Oktober 2025, di Jakarta Pusat.

Aldico juga menambahkan bahwa puncak massa tulang biasanya dicapai pada usia 20 hingga 30 tahun, sehingga periode tersebut menjadi sangat penting atau critical window untuk mencegah osteoporosis di masa mendatang.

Advertisement

Selain itu, Aldico menjelaskan mengapa osteoporosis disebut silent disease, yaitu karena penyakit ini hampir tidak menimbulkan keluhan apapun, yang membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengalami penurunan kepadatan tulang.

Dampak dari osteoporosis tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi aspek sosial dan ekonomi. Patah tulang yang disebabkan oleh osteoporosis sering kali mengakibatkan penderita kehilangan kemandirian.

Advertisement

Data menunjukkan bahwa sekitar 40 persen penyintas tidak lagi mampu berjalan sendiri, dan 60 persen masih memerlukan bantuan setahun setelah mengalami patah tulang panggul.

Siapa Saja Memiliki Risiko Tinggi Mengalami Osteoporosis?

Osteoporosis adalah kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja dan memiliki berbagai faktor risiko yang harus diwaspadai. Menurut Aldico, beberapa faktor tersebut antara lain adalah gangguan hormonal, berat badan yang rendah, wanita yang mengalami menopause, kekurangan asupan kalsium, kurangnya aktivitas fisik, usia yang semakin lanjut, faktor genetik, serta penyakit kronis seperti gangguan hati dan ginjal.

Selain itu, gaya hidup seperti merokok, konsumsi kopi berlebihan, dan alkohol juga dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Penting untuk dicatat bahwa osteoporosis bukan hanya masalah yang terjadi pada orang tua, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan gaya hidup yang tidak sehat sejak usia muda. Untuk menjaga kepadatan tulang, tubuh memerlukan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup. Apabila asupan tersebut tidak mencukupi, tubuh akan mengambil cadangan kalsium dari tulang, sehingga jika hal ini berlangsung terus-menerus, massa tulang akan berkurang dan mengakibatkan tulang menjadi rapuh serta mudah patah.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memenuhi kebutuhan harian kalsium dan vitamin D melalui pola makan yang sehat, mendapatkan paparan sinar matahari pagi yang cukup, serta jika diperlukan, mengonsumsi suplemen yang sesuai. Dengan langkah-langkah tersebut, kita dapat menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis di masa depan.

Kesadaran diri berperan penting dalam pencegahan osteoporosis

Data dari Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) menunjukkan bahwa lebih dari 41,7 persen masyarakat Indonesia mengalami kepadatan tulang rendah, atau yang dikenal dengan osteopenia. Rendahnya kesadaran masyarakat menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya pencegahan osteoporosis. Aldico menyatakan bahwa langkah pertama yang dapat diambil adalah meningkatkan kesadaran diri atau self awareness. "Untuk self awareness, untuk kita memahami diri kita sendiri, pertama mungkin dari pola hidup kita dulu deh. Kita yang paling tahu pola hidup kita gimana. Apakah kita cuma sibuk kerja aja, duduk aja depan komputer, tapi kita nggak olahraga," ujarnya.

Aldico juga menekankan pentingnya tidak hanya berolahraga kardio, tetapi juga melakukan latihan kekuatan otot atau strength training guna menjaga kekuatan tulang. Selain itu, perhatian terhadap pola makan juga sangat diperlukan. "Kemudian juga makannya, tanda kutip mungkin jorok ya, apa aja dimakan, tetelan, apa segala macam, itu kan yang paling tahu mungkin dari diri kita," tambahnya. Aldico mengingatkan bahwa kebiasaan seperti merokok, mengonsumsi soda, kopi, dan minuman ringan dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan tulang. Dengan memahami kebiasaan sehari-hari, seseorang dapat mengevaluasi apakah pola hidupnya sudah mendukung kesehatan tulang atau belum.

Jika seseorang merasa tubuhnya kurang fit, memiliki berat badan berlebih, atau jarang beraktivitas fisik, maka sudah saatnya untuk mulai memperhatikan kondisi tulang dan melakukan pemeriksaan jika diperlukan. Acara ini mengangkat tema 'The Science Behind: Strong Bones, Preventing Osteoporosis Starts Today', yang diadakan untuk memperingati World Osteoporosis Day yang jatuh setiap 20 Oktober. Melalui kegiatan tersebut, Bayer Indonesia berupaya mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa melindungi kesehatan tulang sejak dini adalah investasi penting untuk kualitas hidup yang lebih baik. Menjalankan praktik perawatan diri dalam menjaga kesehatan tulang merupakan langkah konkret dalam mencegah osteoporosis sejak usia produktif.

Menghindari masalah sejak usia produktif

Osteoporosis bukanlah penyakit yang muncul secara mendadak. "Jadi osteoporosis itu silent disease ya, jadi bukan ujug-ujug, tiba-tiba langsung osteoporosis gitu, tapi ini sebetulnya sesuatu yang bisa kita persiapkan dari muda," ungkap Aldico. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak usia produktif. "Jangan waktu usia 20, 30, 40 baru mulai olahraga. Ya mungkin enggak ada kata terlambat, tapi menurut saya itu sudah cukup terlambat. Jadi, ada baiknya, ini sesuatu yang harusnya bisa kita tahu. Rutin berolahraga dari muda," tambahnya.

Advertisement

Pencegahan osteoporosis dapat dilakukan melalui self-care yang sederhana, seperti aktif bergerak, melakukan latihan fisik secara teratur, serta menjaga pola makan yang kaya kalsium. Selain itu, penting untuk menghindari rokok dan alkohol, serta mendapatkan cukup paparan sinar matahari di pagi hari. Jika diperlukan, mengonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D dapat menjadi tambahan yang bermanfaat untuk kesehatan tulang.

Berita Terbaru
  • Direktur Utama BRI Hery Gunardi Bagikan 5 Kunci Sukses Membangun Bisnis
  • Prabowo Hadirkan Tony Robbins di Forum MBG: Pernah Hidup Miskin, Kini Jadi Pengusaha Sukses Dunia
  • Kebakaran Permukiman Padat Penduduk Johar Baru, 240 Warga Terdampak
  • FOTO: Wamen Imipas Silmy Karim Resmi Ditahan KPK
  • Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Istana Bereaksi
  • berita update
  • konten ai
  • osteoporosis
  • osteoporosis adalah
Artikel ini ditulis oleh
Editor Muhamad Agil Aliansyah
T
Reporter Titin Sahra Melani, Aditya Eka Prawira, Redaksi Merdeka
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.