Kandungan yang Terdapat di Dalam Cabai Ternyata Bisa Bantu Obati Kanker Paru-Paru
Sebuah temuan terbaru menemukan pada sebuah komponen yang menghadirkan rasa pedas pada cabai bisa membantu memperlambat penyebaran kanker paru-paru. Sebagian besar kematian yang berhubungan dengan kanker muncul ketika penyakit ini menyebar pada jarak tertentu atau dikenal dengan proses metastasis.
Cabai merupakan salah satu bahan makanan yang paling disukai di Indonesia terutama ketika diolah menjadi sambal. Konsumsi makanan yang satu ini terutama juga memiliki salah satu manfaat positif yang baru diketahui.
Dilansir dari EurekAlert, sebuah temuan terbaru menemukan pada sebuah komponen yang menghadirkan rasa pedas pada cabai bisa membantu memperlambat penyebaran kanker paru-paru. Sebagian besar kematian yang berhubungan dengan kanker muncul ketika penyakit ini menyebar pada jarak tertentu atau dikenal dengan proses metastasis.
"Kanker paru-paru dan kanker lain umumnya mengalami mestastasis pada lokasi kedua seperti otak, hati, atau tulang, sehingga jadi sulit ditangani," jelas Jamie Friedman, peneliti dari temuan ini.
"Hasil penelitian menyarankan bahwa kandungan alami capsaicin dari cabai dapat mewakili jenis terapi untuk melawan penyebaran pada pasien kanker paru-paru," sambungnya.
Pada eksperimen tersebut, terdapat tiga sel kanker paru-paru manusia yang dibudidayakan. Peneliti meneliti bahwa capsaicin melawan invasi dari proses awal penyebaran ini. Diketahui juga bahwa tikus dengan kanker yang menyebar dan mengonsumsi capsaicin ini menunjukkan area penyebaran kanker yang lebih kecil di paru-paru dibanding tikus yang tak mendapatkan perawatan.
Eksperimen tambahan juga menunjukkan bahwa capsaicin menekan penyebaran kanker paru-paru dengan dengan mengaktifkan protein Src. Jenis protein ini memainkan peran dalam proses mengontrol sel seperti proliferasi, diferensiasi, mortiliti, dan adhesi.
"Kami berharap bahwa pada suatu hari capsaicin dapat digunakan sebagai kombinasi dengan kemoterapi untuk mengobati berbagai macam kanker paru-paru," jelas Friedman.
"Akan tetapi, menggunakan capsaicin secara klinis akan membutuhkan upaya untuk mengatasi efek buruk yang dimunculkannya, termasuk iritasi lambung, kram perut, dan perasaan terbakar," sambungnya.
Peneliti saat ini masih bekerja untuk mengoptimalkan penggunaan capsaicin dalam mengatasi masalah kanker ini.
Baca juga:
Sejumlah Penyakit yang Mengancam Kesehatan Pria Kala Usia Senja
Penyakit Kanker Ternyata Dipengaruhi Kondisi Ekonomi Suatu Negara
Kutil pada Bagian Pribadi Tubuh Bisa Picu Munculnya Kanker
Wanita Tak Subur Lebih Rentan Mengalami Risiko Peningkatan Kanker
Pasien Kanker Serviks Sebagian Besar Baru Merasa Gejala ketika Sudah Stadium Lanjut
Dalam 2 Tahun, Jumlah Kasus Kanker di Manado Meningkat