Tjahjo Kumolo ungkap alasan Mega menangis saat kisahkan perempuan di politik
Tjahjo Kumolo ungkap alasan Mega menangis saat kisahkan perempuan di politik. Megawati juga bercerita tentang seorang kader perempuan yang mengundurkan diri lantaran tidak mendapatkan izin dari suaminya. Tjahjo menuturkan, meski hak politik perempuan telah diakui, tapi masih ada pola pikir keliru di masyarakat.
Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri meneteskan air mata ketika orasi ilmiah pengukuhan gelar honoris causa di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Kamis (8/3). Megawati saat itu membawakan tema tentang hari perempuan internasional. Saat menceritakan kondisi perempuan dalam dunia politik Indonesia, sempat dia berhenti sejenak dan tersedu.
Mantan Sekretaris Jenderal PDIP, Tjahjo Kumolo melihat Ketum PDIP ini merasa sedih dengan kurang diapresiasinya perempuan dalam dunia politik. Mengingat, Megawati juga sebagai tokoh politik penting dan senior yang pernah mencapai kursi presiden, adalah juga seorang perempuan. Menurut Tjahjo, hal itu membuat miris dalam hati putri proklamator ini, melihat perjuangannya.
"Saya kira itu yang beliau sedih bahwa beliau pernah jadi orang nomor satu di negara ini, ketua umum partai terlama, dari bawah beliau yang tadinya dihujat, bisa jadi ingin semua punya pikiran yang sama," kata Tjahjo kepada wartawan di kampus IPDN, Kamis (8/3).
Megawati juga bercerita tentang seorang kader perempuan yang mengundurkan diri lantaran tidak mendapatkan izin dari suaminya. Tjahjo menuturkan, meski hak politik perempuan telah diakui, tapi masih ada pola pikir keliru yang berkembang di masyarakat. Hal ini juga yang membuat dilema di tengah masyarakat yang sesungguhnya sudah merdeka.
"Tidak ada diskriminasi tapi masih ada pola pikir di tengah tengah masyarakat Indonesia yang bahwa wanita itu orang belakang, tunduk pada suami. Itu secara keluarga beliau tidak ingin campur tangan tapi sebagai bangsa kan semua punya hak yang sama," kata dia.
Sebelumnya, Megawati dalam orasi ilmiahnya, prihatin meski partai politik 'dipaksa' aturan untuk menambah partisipasi perempuan, dalam kenyataannya masih sulit karena persoalan budaya. Perempuan masih terkekang dengan pola pikir perempuan tidak bisa berkarir karena berkeluarga.
Menurut penilaiannya, setelah Indonesia merdeka, perempuan justru tak mendapatkan ruang dalam politik beda dengan ketika zaman perjuangan dahulu.
"Dalam pengamatan saya ada sebuah fenomena yang terus berjalan justru setelah merdeka kaum perempuan makin surut di bidang politik beda dengan ibu-ibu kita waktu mereka ikut berjuang bersama bapak-bapak, bergairah dalam bidang politik," jelasnya.
Baca juga:
Rayakan HUT ke-71, Megawati gelar teater Satyam Eva Jataye
Megawati jadi jurkam di 17 Pilkada provinsi
Teater kebangsaan di HUT Megawati singgung Pilkada DKI dan impor beras
Puan Maharani sempat larang Megawati rayakan ulang tahun ke-71
JK: Selamat ulang tahun Bu Mega, semoga lebih bijaksana
Peringatan HUT ke-45 PDIP
DPD PDIP tak tahu alasan Megawati batal umumkan Cagub Jateng hari ini