Sidang terakhir kasus Setya Novanto di MKD seperti dramaturgi
Sandiwara yang dipertontonkan di MKD cukup sukses mempermainkan perasaan masyarakat.
Kasus pelanggaran etik yang diduga dilakukan Setya Novanto dihentikan bersamaan dengan keluarnya surat pengunduran dirinya sebagai Ketua DPR. Pengunduran diri Setya Novanto menjadi antiklimaks dari rangkaian panjang sidang etik di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang sudah berjalan selama lebih kurang sebulan.
Sekretaris Dewan Penasehat Setara Institute Romo Benny Susetyo melihat semua ini tak lebih dari sebuah sandiwara belaka.
"Apa yang kita disaksikan di MKD kemarin itu merupakan bagian dari dramaturgi," katanya dalam Konferensi Pers Koalisi Masyarakat Anti Mafia Parlemen tentang Putusan MKD atas Kasus Setnov, 'Sanksi Berat & Mundur yang Terlambat', di Dres Kopitiam, Jalan Agus Salim No 23, Jakarta Pusat, Kamis (17/12).
Romo Benny menuturkan, dramaturgi atau sandiwara yang dipertontonkan di MKD cukup sukses mempermainkan perasaan masyarakat. Dia mencontohkan, di detik-detik terakhir terjadi pergantian anggota MKD dan adanya pemecatan anggota. MKD seolah ingin menunjukkan drama ketika kehilangan roh-nya.
"Sebagai (lembaga) etik tapi memainkan etika. Main etika pada satu orang yang salah sudah jelas-jelas bersalah. Mereka selama itu menjadi dramaturgi menjadi mengaduk-aduk perasaan seolah-olah merasa tidak bersalah," ucapnya.
Baca juga:
Kasus Setnov terjadi karena Jokowi tak bisa kontrol kekuatan politik
Wacana kocok ulang pimpinan DPR bisa bikin kegaduhan baru
Akbar Faizal anggap Ridwan Bae disetir Fahri Hamzah dalam MKD
Desmond: Paling hebat Novanto adalah ketua DPR yang melanggar etik
Copot Akbar Faizal, Fahri Hamzah resmi dilaporkan ke MKD oleh NasDem