Mengapa Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Cenderung Stagnan?
Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengungkap mengapa elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden cenderung stagnan dalam beberapa survei elektabilitas yang dilakukan lembaga survei. Namun, Ari tidak setuju 'bahasa' lembaga survei bahwa elektabilitas itu stagnan.
Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengungkap mengapa elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden cenderung stagnan dalam beberapa survei elektabilitas yang dilakukan lembaga survei. Namun, Ari tidak setuju 'bahasa' lembaga survei bahwa elektabilitas itu stagnan.
Ari dan lembaganya mengumpulkan hasil elektabilitas oleh beberapa lembaga survei seperti Alvara, SMRC, Indikator, LSI Denny JA, sampai terbaru Median. Survei itu dilihat trennya sejak penetapan cawapres hingga November kemarin.
Tren elektabilitas itu kata Ari, menunjukkan pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin cenderung menurun. Sementara penantangnya, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno cenderung naik. Serta, undecided voter juga cenderung naik.
Ari mengungkap alasannya adalah retorika politik Jokowi dan timsesnya cenderung defensif karena status petahana. Mereka hanyut dalam genderang serangan yang diluncurkan oleh kubu Prabowo-Sandiaga. Maka muncul reaksi seperti pernyataan Jokowi soal politikus sontoloyo dan genderuwo.
"Wacana retorika dinamika Jokowi-Ma'ruf cenderung reaktif," kata Ari dalam diskusi Para Syndicate bertajuk "More Noise Than Voice" di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/12).
Sehingga tidak keluar narasi besar seperti yang pernah digaungkan Jokowi pada 2014. Mulai dari Nawacita, Revolusi Mental, dan Tol Laut. Pilpres 2019 ini kata Ari, Jokowi belum mengeluarkan hal tersebut. "Pak Jokowi sebagai inkumben belum ada narasi besar Indonesia maju," ucapnya.
Selain itu Ari menilai belum terlihat segmentasi kampanye antara Jokowi dan Ma'ruf Amin. Terlebih, Ma'ruf dinilai belum ada pengaruh secara elektoral. "Ma'ruf Amin belum menambah elektabilitas," ucapnya.
Sementara, Prabowo dinilai telah berhasil memanfaatkan statusnya sebagai penantang. Berbagai isu dilempar berhasil termakan oleh kubu Jokowi.
"Sebagai penantang efektif menyerang petahana. Isu daya beli masyarakat dimainkan secara apik," jelas Ari.
Faktor kedua adalah Prabowo-Sandiaga berhasil menegaskan simbolik politik identitas. Hal itu ditunjukkan melalui dukungan kelompok identitas. Meski Jokowi bersama Ketum MUI, ada kiai-kiai atau tokoh utama lain yang mendukung Prabowo.
"Jadi bisa mengambil simbol politik identitas dan utamanya bisa mengambil keuntungan elektoral," kata Ari.
Sedangkan kenapa undecided voter meningkat, menurut Ari banyak pemilih yang masih ragu mengambil sikap. Partai juga kalangkabut merangkul pemilih karena kesulitan berstrategi karena Pemilu pertama kali dilaksanakan serentak. "Pemilih urban yang wait and see swing voter masih tinggi," ucapnya.
Baca juga:
Survei Y-Publica: Jokowi-Ma'ruf Peduli Rakyat, Prabowo-Sandi Bela Ulama dan Umat
Paloh Soal Kader PAN Dukung Jokowi: Salah Kalau Kita Enggak Terima Mereka
PDIP Targetkan Raup Sebanyak-banyaknya Kursi DPR dari Sumut, Suara Jokowi 65%
PKS: Pemindahan Markas Pemenangan Prabowo-Sandi ke Jateng Bikin Takut Banyak Pihak
Respons Santai PKS Soal Kader PAN di Daerah Nyebrang Dukung Jokowi-Ma'ruf
Timses Prabowo Ungkit 1,6 Juta DPT Ganda, Tim Jokowi Serahkan ke KPU