Kubu Sudding beberkan bukti diminta mahar oleh kubu OSO untuk maju Pilbup Siak
Dia butuh dua kursi, sehingga harus menggelontorkan uang Rp 700 juta kepada OSO.
Wasekjen DPP Hanura Wilayah Papua Barat, Yan Mandenas, blak-blakan ihwal Oesman Sapta Odang (OSO) yang meminta uang mahar untuk pencalonan sebagai kepala daerah. Yan yang juga seorang pendiri Hanura di Papua, mengajukan diri sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Biak.
"Saya bertemu OSO berulang kali, meminta kebijakan untuk kader Hanura itu dan saya juga sebagai pendiri partai kalau bisa tidak dikenakan mahar partai. Supaya saya bisa menggunakan 2 kursi Hanura," kata Yan di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Kamis (18/1).
Dia berulang kali menghubungi OSO maupun lewat pertemuan langsung. Namun, hasilnya nihil. OSO malah meminta uang Rp 350 juta untuk satu kursi. Sementara dia butuh dua kursi, sehingga harus menggelontorkan uang Rp 700 juta kepada OSO.
Yan juga mengatakan, proses keluarnya rekomendasi melalui keputusan OSO pribadi. Semuanya bakal calon kepala daerah harus bertemu OSO lebih dahulu.
"Saya tidak dikasih kebijakan itu, dalam bentuk lisan tertulis, saya ketemu OSO. Bicara berkali-kali, di rumahnya, di kantor DPD, di kantor DPD dua kali, yang pertama saya ketemu di gedung nusantara II, yang ke dua saya ketemu di ruangannya sendiri, yang ke tiga saya ketemu di rumahnya, yang ke 4 saya cari dia ke City Tower, hampir 3 bulan saya cari," ungkapnya.
"Tapi saya ketemu bendahara untuk ambil surat keputusan untuk pencalonan saya di Biak. Itu saya diminta mahar, minta berapa, satu kursi Rp 350 Juta saya harus bayar. Dua kursi Rp 700 juta saya harus bayar," imbuhnya.
Yan tidak terima dengan hal itu dan akhirnya mengundurkan diri sebagai bakal calon pada 18 Desember 2017. Hal itu setelah bertemu dengan Sekjen Hanura Sarifuddin Sudding.
"Sebaiknya saya mundur sebagai calon bupati hari ini, dan saya diminta mahar itu, itu diminta terang-terangan," ujarnya.
Tak hanya itu, Yan menunjukkan bukti percakapan dengan Ketua DPP Hanura kubu OSO, Benny Rhamdani. Dalam percakapan itu terungkap, ada upaya permintaan uang muka. Percakapan itu melalui pesan singkat pada tanggal 11 Desember 2017.
"Pak Yan untuk kontribusi tidak ada penentuan nominal yang siap saja yang bisa dikirim sebelum rapat dimulai tks," tulis Benny kepada Yan.
"Iya bang soalnya kemarin waktu kami jumpa pak Benny Prananto (Wakil Bendahara Umum Hanura) beliau sampaikan kader maupun bukan kader tetap sama 350 perkursi sehingga sampai hari ini kami belum menyetor kontribusi bang," jawab Yan.
"Pak Yan Mandenas yang saya maksud adalah dana kontribusi awal katakanlah tanda jadi pak Yan Mandenas ke DPP agar surat tugas bisa diberikan kepada pak Yan tks," balas Benny.
Baca juga:
Gede Pasek tuntut kubu Sudding minta maaf terkait tudingan Rp 200 M
Wiranto: Saya mendukung Hanura dipimpin orang yang berkualitas dan bermoral
Kubu OSO polisikan Sarifudin Sudding terkait penggelapan akta jabatan
Yakin didukung Wiranto, kubu Daryatmo daftarkan kepengurusan ke Kemenkum HAM
Selain penggelapan jabatan, Sudding juga dituduh memalsukan surat