Hidayat Nur Wahid khawatir perpustakaan DPR hanya didatangi staf
Hidayat menilai, yang diperlukan saat ini adalah meningkatkan budaya baca di masyarakat.
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menanggapi positif usulan pembangunan perpustakaan DPR. Namun, kata dia rencana itu harus diimbangi dengan prioritas DPR soal legislasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.
"Penting juga DPR bangun kepercayaan publik dengan tingkatkan kinerja. Kinerja yang diharapkan publik kan terkait legislasi. Katakanlah nilainya B, kemudian kinerja benar-benar dirasakan rakyat. Saya kira rakyat juga akan mengerti," kata Hidayat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/3).
Dia mengatakan perpustakaan DPR belum menjadi prioritas untuk saat ini. Sebaiknya, kata dia, anggota dewan perlu menyelesaikan semua proses legislasi termasuk membenahi citra DPR yang sudah turun di mata publik.
"Saya melihat prioritasnya belum di situ. Prioritasnya tingkatkan legislasi, keaktifan dalam kegiatan DPR, tentang DPR yang dipersepsikan oleh publik terkait masalah korupsi, ketidakhadiran. Kalau itu sudah terlampaui, katakanlah nilainya B, saya kira rakyat akan mengerti," jelas dia.
Menurut dia ide itu bisa dimengerti dalam rangka menunjang kualitas anggota dewan. Hanya sangat disayangkan jika nantinya anggota dewan justru sibuk dengan kerja lain.
"Secara prinsip kita sepakat agar anggota DPR itu semakin punya kemampuan, dengan adanya perpustakaan yang memadai, idenya dimengerti. Pertanyaannya, sejauh mana anggota DPR ke perpustakaan, saya yakin jawabannya wallahualam," kata dia.
"Kalau dibuat terbesar juga sementara tidak dibangun budaya baca, meneliti, budaya untuk menghadiri persidangan dengan serius, saya khawatir yang akan mengisi bukan anggota DPR tapi rekan staf ahli," pungkas dia.
Baca juga:
Fahri sebut pembangunan perpustakaan DPR biar anggota makin pintar
KPK sebut anggota DPR lapor LHKPN meningkat
Anggota DPR sebut kapal pencuri ikan milik China lecehkan NKRI
Anggota Komisi III minta Jaksa Agung tuntaskan Kasus Mobile 8
DPR: Keputusan Jokowi buat Inpex & Shell hengkang dari Indonesia