Hasil reshuffle kabinet Jokowi jilid I dinilai tak nendang
Karena itu, reshuffle jilid dua yang kabarnya akan dilakukan Jokowi diharapkan dapat memberikan kepuasan publik.
Reshuffle kabinet jilid satu yang telah dilakukan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu dinilai tak maksimal untuk meningkatkan kinerja pemerintah. Oleh sebab itu, reshuffle kabinet jilid dua yang kabarnya dilakukan Jokowi dalam waktu dekat ini diharapkan dapat memberikan kepuasan publik.
"Jangan seperti kemarin, efeknya enggak nendang. Ketika disurvei lagi kepuasan, publik tak naik, malah turun. Reshuffle kan obatnya untuk kepuasan publik," kata Direktur Eksekutif PolTracking Hanta Yuda dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (7/11).
Hanta berpendapat, Presiden Jokowi harus memiliki indikator dan instrumen yang jelas untuk menilai kinerja menteri-menterinya. Paling tidak, minimal tiga instrumen sebelum reshuffle kabinet dilakukan.
"Kinerja, loyalitas dan koordinasi. Yang kinerja rendah, loyalitasnya terhadap partai melebihi presiden layak diganti, koordinasi yang membuat gaduh. Siapa yang layak diganti presiden yang tahu, enggak hanya 4. Jadi reshuffle itu punya dampak, kinerja pemerintahan meningkat," jelasnya.
Janji-janji Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 terbilang banyak. Jika tim di pemerintahan antara kabinet dengan Presiden Jokowi tak baik, maka dipastikan kepercayaan rakyat akan makin menurun.
"Jadi reshuffle itu memiliki efek, dampak, kalau kinerja pemerintah meningkat maka janji-janji presiden tercapai besar, kalau itu terealisasi maka dukungan publik akan kuat, legitimasi akan kuat. Kalau itu kuat maka dukungan yang rendah dari partai tidak masalah," tandasnya.
Baca juga:
Reshuffle jilid pertama dinilai berhasil, bagaimana yang kedua?
PKS harap Jokowi segera reshuffle kabinet
Fadli Zon: Mudah-mudahan Jokowi tak keluarkan Kartu Indonesia Sabar
Politikus PKB: PAN cukup 1 menteri sajalah, jangan banyak-banyak
Fadli Zon: Sudah setahun Kabinet Kerja, tapi apa hasilnya?