Fahri Hamzah klaim publik justru tak setuju Setnov dihukum
Dari kasus ini, dia mengaku heran karena malah eksekutif yang mengawasi legislatif.
Presiden Jokowi meminta Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menghormati suara rakyat terkait putusan dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Ketua DPR, Setya Novanto. Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, merasa agak bingung dengan pernyataan Jokowi tersebut.
Fahri mengklaim justru rakyat marah jika Ketua DPR Setya Novanto dilengserkan.
"Publik mana yang didengar Pak Jokowi. Kalau publik, saya dengar kemarin enggak setuju Pak Novanto diganti atau dihukum," kata Fahri di Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/12).
Politikus PKS ini geram jika DPR di ranah legislatif kinerjanya dipantau oleh pemerintah di ranah eksekutif. Menurutnya tak layak pemerintah mengawasi DPR.
"Sekarang ini adalah DPR yang mengawasi eksekutif, jangan dibalik. Tidak boleh itu eksekutif mengawasi DPR. Dia tidak punya hak itu. Konstitusi berdasarkan UUD 45 anggota DPR itu dipilih dengan mandat mengawasi pemerintah," tuturnya.
Menurut Fahri, setiap pejabat di pemerintahan harus tahu diri terkait batasan kerja-kerjanya. Dia berharap tak ada intervensi pemerintah ke DPR.
"Jadi sebaiknya kita ini para pejabat ini tahu diri dan membatasi diri. Jangan kita mengintervensi dan mengganggu jalannya proses yang ada di DPR ini," pungkasnya.
Baca juga:
Fahri Hamzah minta paling telat nasib Capim KPK diputuskan besok
Jaksa Agung sebut pernyataan Fahri Hamzah tuduhan membabibuta
Fahri sebut hak angket DPR bisa bongkar borok Freeport & Sudirman
Fahri komentari Donald Trump: Dia bodoh dan dangkal
Fahri Hamzah minta Menko Rizal 'kepret' Sudirman Said dan geng
Fahri sebut Jokowi seharusnya marahi Sudirman Said
Banyak golput di pilkada, Fahri Hamzah salahkan media