Demokrat Sentil Kubu Moeldoko dan PKN: Jangan Adu Domba dengan Anas Urbaningrum
Herman Khaeron merasa kasihan dengan Anas Urbaningrum.
Partai Demokrat meminta agar Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) berhenti mengadu domba dengan Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Partai berlambang mercy itu mengaku tidak ada masalah dengan Anas.
Ketua Badan Pembina Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) DPP Partai Demokrat Herman Khaeron menyebut, tidak ada skenario besar di balik mendekamnya Anas di Lapas Sukamiskin.
"Berhenti kubu Moeldoko dan PKN untuk terus mengadu domba, keberadaan Anas terhadap Partai Demokrat tidak ada masalah, bahkan dalam statmennya bahwa Anas itu lebih suka pada politik persahabatan, bukan politik permusuhan," kata Herman Khaeron, saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/4).
Dia merasa kasihan dengan Anas. Sebab, tak bisa menikmati kebebasan usai mendekam dipenjara selama 9 tahun.
"Menurut saya kasihan Mas Anas. Kasihan, karena pada akhirnya saya melihat di medsos di manapun, pada akhirnya banyak yang mengkritik. Seharusnya kan menikmati kebebasan, menikmati masa di luar tahanan, menyelesaikan berbagai perjalanan kasusnya dan tinggal hidup lebih tenang," ungkapnya.
Skenario Dimaksud Anas
Seorang sumber yang kenal dekat dengan Anas Urbaningrum membocorkan, setelah bebas Anas akan mengkonfirmasi kepada sejumlah orang yang terlibat dalam skenario tersebut.
Bahkan, kata dia, ada satu narasumber kunci yang telah menyampaikan permohonan maaf kepada Anas karena ikut terlibat dalam skenario besar menjebloskan Anas ke dalam penjara.
"Termasuk orang yang merancang melemparkan telur ke Anas saat di KPK," kata sumber itu saat berbincang dengan merdeka.com.
Sumber ini memberikan sejumlah bukti-bukti kepada merdeka.com. Bukti tersebut berupa foto surat pengakuan orang tersebut dan rekaman permintaan maaf.
Foto tersebut juga menunjukkan sang eksekutor skenario tengah berpose dengan sejumlah orang penting.
Loyalis Anas, Gede Pasek Suardika mengakui, memang ada beberapa orang yang telah meminta maaf kepada Anas. Salah satunya, Muhammad Nazaruddin.
Bahkan menurut dia, sebelum bebas, Nazar sempat bersimpuh di kaki Anas. Dia meminta maaf kepada Anas. Kata Pasek, Anas pun memaafkan.
"Lho mas, kok dimaafin ini (Nazaruddin)," kata Pasek saat berbincang dengan Anas.
"Ya mau gimana lagi bli, siapa tahu besok-besok dia bisa sadar," jawab Anas saat ditanya Pasek.
"Siapa tahu dengan dimaafin dia sadar gitu jawabannya Mas Anas. Kalau saya maunya kan marah," ujar Pasek yang juga Ketua Umum PKN.
Menurut Pasek, Nazaruddin seharusnya terlibat dalam 30 kasus korupsi sekaligus. Namun, yang diusut hanya tiga saja. “Nah itu kan berarti ada bargaining,” kata Pasek.
Satu lagi, Pasek mengakui, ada seseorang yang telah memberikan surat pernyataan dan pengakuan telah terlibat dalam skenario menyerang Anas. Namun, Pasek masih menyembunyikan identitas orang tersebut.
Pasek memastikan, orang tersebut masih hidup. Foto-foto orang tersebut yang memang dikenal dekat dengan penguasa saat itu. "Pokoknya dia menjatuhkan citra Mas Anas tugasnya," kata Pasek.
Sementara itu, Petinggi PKN, Laksamana Sukardi mengatakan, tugas Anas setelah bebas adalah mengkonfirmasi terhadap orang-orang yang pernah terlibat dalam skenario tersebut. Namun, Laksamana menolak menjelaskan, siapa saja orang tersebut.
"Jadi banyak sekali tugas Mas Anas setelah keluar ini ya. Mengkonfirmasikan kepada pihak-pihak yang telah memasukkan dia ke sini," ujar Laksamana.
Misalnya saja, kata Laksamana, Anas harus bertemu dengan pimpinan KPK saat itu yakni Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.
"Bisa kan menanyakan, ngga ada salahnya kan nanya. Ya Mas Anas juga punya bukti-bukti," ujarnya.
Perihal siapa lagi yang bakal dikonfirmasi, Laksamana masih merahasiakan hal tersebut. “Anda lebih baik tanya Pasek,” ujar dia.
Baca juga:
NasDem Minta Anas Urbaningrum dan Demokrat Tak Saling Dendam
Abraham Samad Jawab Tegas Tuduhan Skenario Besar Anas Urbaningrum
Sejarah Partai Demokrat: Dari Subur, Hadi, Anas hingga Diambilalih SBY dan AHY
BW Tagih Janji Anas Urbaningrum: Kapan Lu Loncat dari Monas?
Anas Urbaningrum Singgung Skenario Besar, Demokrat: Tanya KPK dan Novel Baswedan