LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Bela PDIP, Maruarar sindir parpol klaim menang di Pilkada padahal bukan kadernya

Maruarar bangga dengan keputusan Ketum PDIP Megawati karena berani memajukan kader sendiri. Dia justru menyindir parpol yang mengklaim menang pilkada padahal bukan kadernya sendiri.

2018-07-02 00:33:00
Pilkada Serentak
Advertisement

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) disebut-sebut banyak mengalami kekalahan di Pilkada 2018. Namun, politisi PDIP yang juga Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP), Maruarar Sirait, justru mengapresiasi keputusan dan capaian partainya.

Dia mengklaim, kemenangan partainya di sejumlah provinsi adalah wujud kemenangan rakyat sekaligus kemenangan PDIP. Sebab, PDIP berani memajukan kader sendiri.

"Keberanian PDIP mengusung kader di hampir semua wilayah menunjukkan bahwa PDIP telah menjalankan fungsi kepartaian dengan baik," ucap pria yang akrab disapa Ara itu dalam keterangannya, Minggu (1/7).

Advertisement

Dia mengaku bangga dengan pilihan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pasalnya, kaderisasi partai berjalan.

"Saya sebagai kader partai bangga dengan keputusan Ibu Mega untuk mengusung kader bertarung di pilkada 2018" ungkap Ara.

Menurutnya, ini menunjukkan proses kaderisasi di PDIP tidak pernah instan. Seorang kader selalu melewati proses panjang sebelum dicalonkan menjadi kepala daerah.

Advertisement

Ara mencontohkan proses PDIP sebelum mengusung Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jateng. Ganjar lebih dulu menjadi anggota DPR dua periode. Kemudian Djarot Saiful Hidayat yang diusung jadi cagub Sumut sebelumnya adalah Wali Kota Blitar, anggota DPR, Wakil Gubernur DKI. Bahkan Presiden Joko Widodo sebelumnya juga berproses dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI dan kemudian menjadi Presiden.

"Partai politik yang berhasil adalah partai yang sukses memproses dan menciptakan para pemimpin bukan hanya membaca situasi, melihat figur yang berpeluang untuk kemudian didukung tanpa memperhatikan aspek ideologis, loyalitas dan pendidikan politik di partai," ungkap Ara.

Dia menganalisa klaim sejumlah partai yang menang di banyak pilkada. Jika ditilik dari pragmatisme politik, itu sah saja. Tapi jika dilihat dari aspek kualitas, klaim itu menjadi tidak tepat.

"Sebab kemenangan mereka bukan kemenangan yang mendatangkan nilai lebih bagi partai yang seharusnya berfungsi sebagai tempat artikulasi kepentingan rakyat, tempat pendidikan politik dan kaderisasi," tukasnya.

Dia pun mencontohkan, bagaimana mesin partai PDIP berjalan, salah satunya di Pilkada Sumut dengan pasangan Djarot-Sihar.

"Dimana suara PDIP dan PPP Sumut tak lebih dari 21 persen, tapi lihat perolehan suara Djoss lebih dari 40 persen. Artinya mesin partai berjalan, figur yang diusung juga diterima publik," ucapnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
AHY: Kemenangan Khofifah di Pilgub Jatim untuk bahan Pilpres 2019
Gakumdu Bawaslu Riau tahan anggota KPPS yang coblos dua kali
Menang di 6 Pilgub, Maruarar puji keputusan Megawati pilih calon pemimpin
Pilgub Sulsel, ratusan warga di Gowa ikuti pencoblosan ulang
Soal kontroversi format C1 di Sulsel, ini penjelasan KPU
Seskab minta rakyat yang tak puas atas hasil Pilkada 2018 bisa gugat via MK

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.