Wamen Isyana Kunjungi Ibu Hamil KEK di Rumah Sempit Tanpa Jamban dan Air Layak
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) melalui pemberian bantuan jamban sehat.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengunjungi ibu hamil penderita Kurang Energi Kronis (KEK) yang tergolong dalam Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di pelosok Aceh. Kunjungan dilakukan di Gampong Siron Blang, Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, pada Selasa (7/10).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) melalui pemberian bantuan jamban sehat, hasil kerja sama antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai orang tua asuh (OTA).
Wamen Isyana ikut langsung meletakkan batu pertama pembangunan jamban dan sanitasi di desa tersebut. Ia didampingi oleh Direktur Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan Kemendukbangga/BKKBN Mahyuzar, Kepala Perwakilan BKKBN Aceh Safrina Salim, Wakil Bupati Aceh Besar Syukri A. Jalil, serta perwakilan Kodam Iskandar Muda, Baitul Mal, dan BSI.
Tinggal di Rumah 6x4,5 Meter Tanpa Jamban
Salah satu penerima bantuan, Nurlaila (28), merupakan ibu hamil dengan kondisi KEK yang tinggal bersama suami dan dua anak di rumah berukuran 6x4,5 meter berdinding papan tanpa jamban. Untuk kebutuhan air bersih, keluarganya harus menggunakan sumur umum sedalam 13 meter yang dibangun pada 2019 dan digunakan oleh tujuh kepala keluarga. Air dari sumur tersebut diketahui keruh dan tidak layak konsumsi, sehingga Nurlaila terpaksa membeli air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari.
Dalam kunjungan itu, Wamen Isyana memberikan edukasi langsung kepada suami Nurlaila, Syariful Anwar, yang bekerja sebagai pedagang ikan keliling. Ia menekankan pentingnya asupan makanan bergizi bagi ibu hamil untuk mencegah stunting pada anak yang akan dilahirkan.
"Ibu sedang hamil dan tidak lama lagi akan melahirkan, jadi bapak harus mendampingi serta memastikan ibu mendapat makanan bergizi," ujar Isyana.
Edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Wamen Isyana menjelaskan bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode kritis dalam mencegah stunting akibat kekurangan gizi kronis.
Intervensi pada periode ini mencakup pemenuhan gizi ibu hamil dan anak, ASI eksklusif dan MP-ASI bergizi, pemberian vitamin dan zat besi, imunisasi lengkap, serta pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu.
"Kunjungan kami ke desa ini untuk memastikan masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting tidak hanya soal makanan bergizi, tetapi juga kepemilikan jamban sehat, air layak konsumsi, dan sanitasi lingkungan," jelasnya.
Menurut Isyana, sanitasi buruk dapat menyebabkan penyakit infeksi yang mengganggu penyerapan gizi, sehingga berdampak pada tumbuh kembang anak dan ibu hamil.
Gotong Royong Cegah Stunting Lewat Program Genting
Wamen Isyana menambahkan, program Genting merupakan langkah cepat (quick win) dalam menurunkan angka stunting melalui partisipasi masyarakat. Melalui sistem orang tua asuh, masyarakat dapat berkontribusi memberikan dukungan nutrisi, edukasi, dan bantuan non-nutrisi kepada keluarga berisiko stunting, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dua tahun (baduta).
"Kunjungan kami ke desa ini juga untuk memastikan apakah program Genting berjalan dengan baik. Kami mengimbau ibu hamil dan anak untuk menggunakan jamban dan menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya.
Isyana juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong menjadi orang tua asuh dalam program Genting, guna mempercepat penurunan stunting di Indonesia.
Target Intervensi Stunting di Aceh
Provinsi Aceh pada 2025 menargetkan 38.004 keluarga berisiko stunting (KRS) sebagai penerima manfaat program intervensi. Di Kabupaten Aceh Besar terdapat 12.046 KRS, dengan 716 KRS di Kecamatan Cot Glie dan 46 KRS di Desa Siron Blang. Dari jumlah tersebut, 44 keluarga belum memiliki jamban layak.