Usai kebakaran Pasar Badung, buruh angkut kini merana
Mereka terancam tak punya pekerjaan dan pulang kampung.
Pasca terbakarnya pasar tradisional terbesar di Pulau Bali, Pasar Badung, di kota Denpasar berdampak buruk terhadap banyak orang. Ratusan orang selama ini mengais rezeki dari tukang angkut barang terancam tak punya pekerjaan dan pulang kampung.
"Apa yang saya angkut sekarang setelah ini? Sekarang hanya dibayar untuk pindahkan barang. Setelah ini kami tidak ada kerjaan lagi. Pedagang sudah menggelar lesehan. Kami hanya gigit jari," kata Made Sudi, wanita paruh baya mengaku asal Karangsem, di antara Puing sisa kebakaran Pasar Badung, Kamis (3/3).
Selama ini katanya untuk nyangkut barang dalam keranjang Sudi diupah secara borongan. Contohnya, jika sebuah mobil pikap berisi bunga atau sayuran, buruh yang mengangkut sekitar tiga orang dengan bayaran Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu.
Dengan musibah kebakaran ini, mereka mulai khawatir akan kehilangan mata pencaharian sebagai tukang suun (tenaga angkut) di pasar terbesar di Bali itu.
"Saya sekarang mulai susah untuk bisa mencari pekerjaan. Karena banyak pelanggan saya tidak akan ke sini lagi," ujar Ketut Sadiari, tukang angkut lainnya.
Tak hanya Ketut Sadiari, ratusan tukang suun lain juga mengalami nasib serupa. Mereka yang saban hari mengais rezeki di pasar itu kini harus putar otak mencari nafkah di lokasi lain. Langganan mereka tak lagi datang membawa barang dan menurunkan muatan ke pasar itu. Demikian pula pembeli tidak lagi datang setiap pagi membeli barang-barang yang bisa mereka antarkan.
Baca juga:
Puluhan pedagang korban kebakaran pasar Badung berjualan di emperan
Asap masih mengepul di antara bangunan Pasar Badung yang terbakar
Kebakaran Pasar Badung di Denpasar diduga sabotase
Modal habis, pedagang korban kebakaran pasar Badung menolak pindah