Uang asli dan palsu ini sebelas dua belas, beda beratnya saja
Empat tersangka pencetak uang palsu yang mirip uang asli itu kini ditahan Polrestabes Surabaya.
Empat tersangka kasus peredaran uang palsu (upal), yaitu Samuel, Fauzi, Zainuri dan Jono, yang dibekuk anggota Unit Jatanum Satreskrim Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, ternyata cerdas dan sudah berpengalaman mencetak upal. Hasil cetakan upal milik tersangka hampir sama persis dengan aslinya, meski hanya dicetak secara manual.
Hal ini sempat diutarakan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta, Kamis (13/3). Bahkan perwira dengan tiga melati di pundak ini, sempat menyamakan uang asli dengan upal hasil cetakan para tersangka.
"Perbedaannya hanya terletak pada berat kertasnya. Semuanya tidak jauh beda dengan aslinya. Jadi tersangka ini cukup berpengalaman, jika dilihat dari hasilnya. Ayo silakan cek, mana uang asli dan mana yang palsu?," ujar Setija di Mapolrestabes Surabaya sembari memberi tebakan.
Kemudian, lanjut dia, kalau dilihat rekam jejak tersangka, mereka sudah berpengalaman. "Mereka ini pernah di tahan di Polres Mojokerto, ada yang empat tahun, ada tiga tahun dan dua tahun karena kasus upal. Jadi sebelum di tahan, mereka ini sudah beroperasi dan mencetak upal," katanya.
Sementara itu, dari hasil penyidikan polisi, untuk mencetak upal yang sebelas dua belas alias sangat mirip itu, tersangka tidak membutuhkan peralatan canggih dan kertas mahal, melainkan dengan peralatan sablon sederhana dan menggunakan kertas buram.
Kanit Jatanum Polrestabes Surabaya Iptu M Solihin Fery memaparkan, untuk mencapai hasil sempurna, awalnya tersangka mencoba dengan berbagai cara. "Untuk pembelajaran, awalnya tersangka menumpuk dua lembar kertas dengan sisi berbeda yang sudah dicetak. Namun hasilnya tidak maksimal," terang Fery di samping Kapolrestabes Surabaya.
Setelah itu, tersangka mencoba mencetak dua sisi gambar berbeda dengan satu kertas, dan hasilnya cukup maksimal, sehingga berat kertas hampir sama dengan uang asli. "Mereka menggunakan kertas buram lalu untuk memutihkan, mereka mengecatnya dengan warta putih sehingga terasa kasar, baru kemudian menyablonnya dengan gambar sesuai kebutuhan," katanya lagi.
Untuk mencetak upal agar sempurna seperti aslinya, Fery melanjutkan, tersangka membutuhkan 29 screen atau alat sablon dengan pengeblokan berbeda-beda. Screen pertama untuk pengeblokan dasar bolak-balik (dua sisi kertas), screen kedua bergambar pahlawan, gambar fosfor Gedung DPR (ketiga), gambar nominal uang (keempat), peta (kelima), nomor seri (keenam), garis uang (tujuh) dan seterusnya.
"Setelah proses screen selesai, kemudian disablon di atas kertas HVS 60 gram, selanjutnya disablon garis putus-putus dan nominal bolak-balik. Terakhir dilakukan pemotongan menggunakan karter," terang Fery.
Fery juga menjelaskan peran masing-masing tersangka. Ide pembuatan uang berasal dari Fauzi. Mantan residivis Polres Mojokerto dalam kasus sama ini, juga mengajarkan bagaimana cara membuat uang palsu yang sempurna. Sementara Samuel, berperan sebagai pemberi modal, menyediakan alat-alat produksi serta mencetaknya sendiri.
Selanjutnya, uang hasil cetakan Samuel itu dijual kepada Fauzi dengan komposisi 1 banding 4. Untuk tersangka Zainuri sendiri berperan sebagai juru antar Fauzi, untuk mendampinginya menemui Jono, yang berperan sebagai pengedar.
Diberitakan sebelumnya, berdasarkan informasi dari masyarakat, petugas dari Polrestabes Surabaya melakukan penyelidikan terkait peredaran uang palsu di Surabaya. Selanjutnya empat tersangka ditangkap di Jalan Pasar Besar, beserta sejumlah barang bukti, setelah penggeledahan di lokasi pencetakan upal di kawasan Tambangboyo.