Tuan Rumah Konferensi Imam Besar Dunia, Menag Ingin Indonesia Jadi Episentrum Peradaban Islam
Nasaruddin yakin pelaksanaan International Grand Imams Conference (IGIC) akan diminati. Ia berharap Indonesia yang menjadi tuan rumah.
Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar menargetkan Indonesia menjadi episentrum peradaban Islam dunia saat menjadi tuan rumah Konferensi Imam Besar Dunia yang akan digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta. Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Tabligh Akbar Ittihad Persaudaran Imam Masjid (IPIM) Sulsel di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Minggu (14/6).
Nasaruddin menjelaskan sebelum digelar International Grand Imams Conference (IGIC), seluruh Imam Masjid di Sulsel dikumpulkan dalam Istighosah dan Tabligh Akbar. Ia menyebut Kota Makassar menjadi daerah kedua setelah Kalimantan Timur.
"Setelah Samarinda, sekarang Makassar dan setelah itu Banteng serta Jawa Timur. Insyallah nanti akan kita adakan perjumpaan pertemuan regional," ujarnya.
Berharap Indonesia yang Menjadi Tuan Rumah
Nasaruddin yakin pelaksanaan International Grand Imams Conference (IGIC) akan diminati. Ia berharap Indonesia yang menjadi tuan rumah bisa menunjukkan wajah Islam yang ramah, cinta, dan akrab.
"Mudah-mudahan nanti Indonesia sebagai penyelenggara bisa menjadi episetrum peradaban dunia islam. Bagaimana Islam berwajah ramah, berwajah cinta, berwajah akrab satu sama lain. Inilah kita akan tampilkan di Indonesia itu sebagai pembawa pencerahan," kata Nasaruddin.
Nasaruddin yang juga Imam Masjid Istiqlal ini menegaskaan IGIC bisa mencerahkan dan memperbaiki citra Islam di mata dunia.
"Kita boleh salah paham bahwa Islam itu dengan keras-keras dan sebagainya. Tapi kita akan tampilkan bahwa Islam Indonesia itu adalah Islam yang damai," ucapnya.
Road Show Sebelum Digelarnya IGIC
Sementara itu, Sekretaris Jenderal IPIM, Inspekur Jenderal Sabilul Alif mengatakan Istighosah dan Tabligh Akbar di Makassar merupakan bridging atau Road Show sebelum digelarnya IGIC yang akan digelar di Masjid Istiqlal Jakarta. Sebelumnya kegiatan serupa sudah digelar di Samarintah, Kalimantan Timur.
'Kegiatan ini mengundang para tokoh global atau dunia untuk sama-sama kita adakan Konferensi Imam Besar di Jakarta atau di (Masjid) Istiqlal," ujarnya.
Sabilul Alif berharap dengan adanya Konferensi Imam Masjid tingkat Internasional bisa menyatukan visi dan misi soal perdamaian.
"Kita semua ingin menyampaikan bagaimana masjid harmoni, religius diplomasi dan global peace," kata dia.
Jenderal bintang dua di Polri ini mengatakan masjid seharusnya bisa menciptakan harmoni toleransi. Selain itu, masjid juga bisa menjadi soft ppower diplomacy.
"Bagaimana soft power diplomasi adalah salah satunya yang bisa kita lakukan adalah religius diplomasi. Dan apa yang kita lakukan dari dua hal itu tentunya untuk global peace kedamaian dunia," ucapnya.