LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tragedi Mei 98: Surat Ancaman itu Datang Setiap Hari

Bulan Mei memiliki kenangan bagi Firdaus Hasbullah, karena menjadi bagian dari salah satu penggerak mahasiswa Palembang turun ke jalan. Tujuannya hanya satu, meruntuhkan rezim Presiden Soeharto. Reformasi menjadi target setelahnya yang akhirnya disambut euforia masyarakat.

2021-05-21 08:03:00
Tragedi Mei 98
Advertisement

Bulan Mei memiliki kenangan bagi Firdaus Hasbullah, karena menjadi bagian dari salah satu penggerak mahasiswa Palembang turun ke jalan. Tujuannya hanya satu, meruntuhkan rezim Presiden Soeharto. Reformasi menjadi target setelahnya yang akhirnya disambut euforia masyarakat.

Firdaus, begitu sapaannya, mengenang sedikit cerita di balik pra dan pasca reformasi. Banyak suka duka yang dialami selama menjadi aktivis.

Dia hijrah ke Palembang saat duduk di semester enam, dan memilih melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) awal 1998. Sebelumnya, dia kuliah di Universitas Islam Bandung, Jawa Barat.

Advertisement

Di Bandung, Firdaus sudah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Masifnya kritikan mahasiswa terhadap rezim Soeharto semakin menjadikan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa menentang pemerintahan pada 1996.

Setahun kemudian, dia juga bergabung dengan aktivis dari berbagai organisasi mahasiswa lain turun ke jalan menyuarakan penolakan pemilihan umum (Pemilu) 1997. Mereka menilai hasil pemilu tidak demokratis, dan ujungnya tetap melanggengkan kekuasaan Soeharto.

Ketidaknyamanan karena sering mendapat intimidasi dari banyak pihak, Firdaus memilih pindah kuliah ke Palembang. Namun, jiwa aktivisnya sudah melekat sehingga kembali membangun kekuatan bersama aktivis-aktivis kampus lainnya dalam rangka melengserkan pemerintahan otoriter.

Advertisement

Jauh sebelum reformasi Mei 1998, gaung gerakan mahasiswa di Tanah Air terus terdengar, terutama akibat krisis ekonomi yang menghantam Indonesia. Gelombang aksi dari kampus setiap daerah semakin membuatnya untuk terlibat.

Sayangnya, awal 1998 tidak banyak mahasiswa di kampusnya yang sepemahaman dengannya. Hal itu tak lain akibat ketakutan mahasiswa terhadap intimidasi dari rektorat dan pemerintah, semisal drop out dari kampus.

Kondisi itu tidak menyurutkan niatnya menggalang massa. Bersama sejumlah aktivis di UMP, dia konsolidasi dengan aktivis-aktivis dari kampus lahir sehingga lahirlah gerakan bernama Forum Mahasiswa Sumatera Selatan (Formass).

Organisasi akhirnya semakin masif dan banyak mahasiswa yang sebelumnya apatis bergabung. Gelombang aksi dari seluruh kampus di Indonesia akhirnya memunculkan 'dukungan' rektorat terhadap gerakan mahasiswa pada awal Mei 1998.

Sebelum itu, dia harus berhadapan dengan rektorat sehingga dipersulit aksi di kampus, terlebih di luar. Firdaus dianggap sebagai provokator oleh pihak-pihak luar yang diembuskan di kampus.

Tuduhan itu seringkali diluruskan dengan terus menyuarakan demokrasi. Namun justru provokasi dibalas dengan intimidasi oleh banyak pihak.

Intimidasi tersebut beragam bentuk. Mulai dari selalu diikuti orang tidak dikenal, hingga dikirimi surat kaleng dengan kalimat bernada ancaman pembunuhan.

Surat tersebut ditemukan di depan kamar indekosnya yang tak jauh dari kampus. Surat itu hampir tiap hari ada dan hingga kini tak diketahui pengirimnya.

"Isi surat itu kira-kira begini, berhenti memprovokasi mahasiswa kalau tidak ingin besok tak lagi bisa melihat matahari. Semuanya bernada ancaman," ungkap Firdaus kepada merdeka.com, Rabu (19/5).

©2021 Merdeka.com

Ketika komunikasi dengan sesama aktivis, ternyata mereka mengalami kejadian yang sama. Satu per satu surat kaleng diterima rekan-rekannya yang isinya hampir sama, seputar ancaman.

"Ternyata aktivis dari kampus lain juga menerima surat kaleng, isinya ya ancaman juga," kata dia.

Surat-surat itu datang di indekosnya pada Maret sampai awal Mei 1998. Semasa itu, situasi kampus semakin memanas seiring gelombang simpul-simpul gerakan mahasiswa terbentuk.

"Kami tidak tahu dari mana pengirimnya, tapi kami maklum karena situasinya memang memanas," ujarnya.

Beragam ancaman itu sempat membuatnya ciut. Alhasil, dia memutuskan tidak pulang ke indekos untuk sementara dan memilih tidur di kampus.

"Sehabis demo atau kuliah, saya tidak pulang ke kos, ya karena rada takut, kan sering juga diikuti orang kalau mau pulang atau berangkat dar kos," terangnya.

Kemudian, para aktivis di Palembang sepakat menggelar aksi di luar kampus. Mereka memilih lokasi-lokasi strategis agar suara mahasiswa didengar, semisal di depan kantor DPRD Sumsel dan Makodam II Sriwijaya.

Setiap hari turun ke jalan, massa kerap terlibat bentrokan dengan aparat hingga berdarah-darah. Bukannya gentar, luka dan darah itu justru menjadi pemacu 'jiwa berontak' mahasiswa.

"Alhamdulillah saat itu saya tidak terdengar ada kawan-kawan yang diculik. Semuanya masih aman, masih sebatas berdarah-darah saja," ujarnya.

Perjuangan mahasiswa akhirnya berbuah hasil dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Runtuhnya rezim Soeharto disambut euforia mahasiswa, terlebih bagi masyarakat luas.

Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya masyarakat ketika mahasiswa kembali menggelar aksi. Massa menjadi satu barisan untuk menyongsong reformasi.

"Ribuan orang berbaris di pinggir jalan menanti kehadiran kami ketika long march dari kampus menuju titik aksi. Kami tidak bisa membendung masyarakat yang ingin bergabung." kata dia.

Sayangnya, misi mulia itu ternoda dengan tragedi kerusuhan di setiap sudut Kota Palembang. Sasarannya adalah pusat perbelanjaan sehingga terjadi penjarahan dan kejahatan lain.

"Kerusuhan massa dan aksi mahasiswa itu hal yang berbeda, kami tidak pernah mengomandoi. Mungkin ada pihak lain yang memprovokasi massa sehingga terjadi penjarahan di mana-mana," terangnya.

Seusai lengsernya Soeharto, gerakan mahasiswa terus berkembang. Mereka melakukan pendampingan terhadap mayarakat yang mengalami perampasan hak atas tanah oleh perusahaan-perusahaan.

Runtuhnya rezim menjadi kekuatan mahasiswa dan masyarakat mengembalikan haknya. Alhasil, banyak tanah rakyat yang sebelumnya dikuasai korporasi dapat kembali ke petani.

"Waktu itu masyarakat diintimidasi pemerintah dengan dalih tidak mendukung pembangunan. Pemilik tanah tak bisa berbuat banyak dan akhirnya tanah dirampas investor yang didukung pemerintah," ujarnya.

Sebagai jebolan aktivis '98, karir Firdaus di organisasi kemahasiswan semakin cemerlang. Dia berhasil menduduki Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UMP pada 1998 dan menjadi Presiden Mahasiswa UMP periode 1999-2000.

"Risikonya kuliah saya cukup lama, delapan tahun baru lulus," kenangnya.

Pengalaman menjadi bagian 'pejuang' reformasi itu, membuat jiwa kritik terhadap pemerintah terus mengalir hingga saat ini. Bekal menjadi aktivis juga memudahkan jalan karirnya menekuni dunia politik sehingga kini dia duduk di kepengurusan DPD Partai Demokrat Sumsel, tenaga ahli DPRD Sumsel, sekaligus sebagai advokat.

"Kritik konstruktif terus saya lakukan sampai sekarang, baik secara profesi maupun mesin partai saya," kata dia pria kelahiran Penukal Abab Lematang Ilir pada 7 Oktober 1977 itu.

Baca juga:
Soal Peristiwa Semanggi 98, LPSK Tak Terpengaruh Pernyataan Jaksa Agung
Jika Jokowi Lambat Keluarkan Perppu UU KPK, Demo Mahasiswa Dinilai Bisa Semasif 1998
Kisah Pam Swakarsa, Pasukan Bentukan Kivlan Sempat Dihajar Marinir Saat 1998
Ini Penyebab Wiranto Copot Kivlan Zen dari Kakostrad TNI AD
Aktivis Tabur Bunga Peringati Tragedi Mei 98
Peringati 21 Tahun Reformasi, Mahasiswa Soroti Pemilu dan Kebebasan Berpendapat

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.