Toni Bikin Paving dari Sampah, Tapi Pemerintah Bungkam: Saya Cuma Dapat Penghargaan Doang
Meski berpotensi membantu mengatasi persoalan lingkungan, upayanya belum juga mendapat dukungan yang layak.
Toni Permana (46), warga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, mengungkapkan kekecewaannya karena inovasinya mengolah sampah plastik menjadi paving block tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah. Meski berpotensi membantu mengatasi persoalan lingkungan, upayanya belum juga mendapat dukungan yang layak.
Berdasarkan pengakuannya dalam video yang diunggah, kegiatan mengubah sampah plastik menjadi paving block itu dilakukan dirinya sudah sejak dari 2017 silam, sebelum menggunakan alat atau masih manual dalam proses pengerjaannya.
"Sekarang saya punya mesin, saya ngerakit sendiri. Terus saya punya penyaring asap, saya rakit sendiri dan itu sudah lolos uji emisi. Tapi nyatanya apa? Ini padahal sudah menempuh uji lab, uji tekan, uji bakar, uji abrasi," kata Toni dalam video yang diunggah akun @fakta.indo seperti dilihat merdeka.com, Selasa (30/9).
Meski sudah melewati beberapa uji, dirinya mengungkapkan, tidak mendapatkan dukungan.
"Tapi faktanya apa? Tidak ada dukungan. Saya dulu punya usaha bengkel las, bikin tralis, pagar, kanopi. Tapi sekarang ini jadi gudang sampah," ungkapnya.
"Saya rela, saya rela. Ini dulu kantor. Kalau ada konsumen ke sini datang, ada kantor, ada sofa di sini. Sekarang jadi gudang dari tabungan nasabah," sambungnya.
Toni menegaskan, lokasi pembuatan paving block tersebut tidak menggunakan lahan orang lain atau menyewa. Melainkan memanfaatkan halaman atau lahan belakang rumahnya.
"Ini rumah saya. Saya tata belakang rumah menjadi knowledge center, jadi bank sampah. Saya tata demi lingkungan," tegasnya.
Menurutnya, menjadi percuma apa yang sudah dilakukannya itu. Apalagi, sudah mendapatkan predikat bank sampah terbaik keempat di Indonesia.
"Ini Karang Taruna saja, jam segini masih kumpul-kumpul. Percuma saya mendapatkan predikat bank sampah terbaik keempat di Indonesia, tapi tidak ada perhatian dari pemerintah. Lahan saya di belakang rumah, lahan pribadi," jelasnya.
Ia memastikan, apa yang dilakukannya ini tidak memakai lahan milik orang lain atau sewa. Melainkan milik pribadi dirinya.
"Ini bukan sewa, tidak ada yang nyewa. Ini rumah pribadi. Saya tata seperti sedemikian rupa untuk mengolah sampah di lingkungan kami," ucapnya.
"Tapi mana? Malah larangan, larangan, larangan, aturan, aturan, aturan, aturan dibuat hanya untuk dilanggar. Kalau ini untuk kepentingan pribadi, saya akan bangun di sini kontrakan bukan bank sampah kayak gini," tambahnya.
Toni mengaku, belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setelah apa yang sudah dilakukan oleh dirinya tersebut. Terlebih, menurutnya banyak asosiasi hingga organisasi tapi tidak berdampak ke lingkungan.
"Kalau tahu pemerintahan seperti ini, kami datang itu untuk membantu bukan untuk mengganggu. Mana perhatiannya? Saat ini banyak asosiasi dibentuk, banyak organisasi dibentuk, banyak forum-forum dibentuk," paparnya.
"Tapi asosiasi hanya mencari sensasi, organisasi hanya basa-basi, forum-forum hanya kumpul-kumpul doang, hanya untuk diskusi. Mana dampaknya ke lingkungan? Tidak ada. Hanya memanfaatkan anggota untuk menyerap anggaran doang, dari CSR, dari ITR, dari dana-dana hibah pemerintah. Tidak ada penggunaannya," ujarnya.
Diketahui, dalam video yang diunggah pada slide ketiga tersebut memperlihatkan proses pembuatan paving block dari sampah. Dari mulai sampah plastik yang dihancurkan menggunakan mesin pres.
Selanjutnya, dilelehkan dan lelehannya itu dimasukkan kepada wadah atau tempat pencetak paving blok berbentuk segi enam tersebut.
"Paving ini lebih ringan, kuat, dan tahan lama dibanding paving semen. Bahkan, produk tersebut telah tersertifikasi ITB serta lolos uji bakar, uji tekan, uji polutan, dan uji abrasi," tulis akun @fakta.indo.
Pada akun itu, Toni belum mendapatkan dukungan dari pemerintah. Sehingga, kesulitan untuk memperluas produksi.
"Namun tanpa dukungan pemerintah, ia kesulitan memperluas produksi dan pemasaran. Ia menilai, inovasi ini tak hanya bisa mengurangi sampah plastik, tetapi juga membuka peluang usaha ramah lingkungan bagi masyarakat," ujarnya.