LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tolak Gang Dolly ditutup, PSK tuntut Risma lunasi utang mereka

"Utangku banyak, utangku segunung," teriak seorang PSK di Gang Dolly.

2013-11-17 12:11:00
Prostitusi
Advertisement

Jam di tangan tunjuk pukul 01.00 WIB, suasana 'pesta' para pria hidung belang dan dengus nafas birahi di lokalisasi Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur belum usai. Dentuman musik karaoke di beberapa wisma di Gang Dolly dan gang-gang lain di Jarak (jalan utama) dan Putat Jaya masih terdengar riuh.

Saat merdeka.com mencoba menggali informasi di kawasan prostitusi yang konon terbesar se-Asia Tenggara itu, perjalanan terhenti di sebuah wisma di Gang Lebar.

Sekadar catatan, dari beberapa gang yang ada di kawasan Jarak dan Putat Jaya, hanya Dolly yang paling populer. Sebab, di lokalisasi yang didirikan noni Belanda, Tante Dolly ini, merupakan cikal bakal berdirinya seluruh lokalisasi yang konon lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura itu.

Hawa di Kota Pahlawan masih terasa dingin, karena Jumat lalu, Surabaya mulai diguyur hujan. Di tengah dingin dini hari itu, tiba-tiba datang seorang PSK yang mengaku bernama Yanti asal Madura. Dia turun dari motor seorang laki-laki yang diboncengnya.

Dalam kondisi tubuh sempoyongan karena mabuk --bau mulutnya tercium bau alkohol-- dia menghampiri merdeka.com yang tengah duduk santai menikmati minuman untuk sekadar melepas lelah di beranda wisma.

Lalu, iseng-iseng bertanya: "Mbak penghuni wisma ini juga? Asalnya dari mana, sudah punya anak belum?" Dengan mulut yang masih berbau Vodka, dia menjawab dengan suara sedikit berteriak. "Anakku 1.000, bojo (suami) ku 100, trus mau apa?," teriaknya sinis.

Dalam kondisi teler itu, ocehan si PSK berkulit sawo katang ini, menyelinap di antara riuh 'pesta' malam di Gang Lebar. Yanti terus mengomel ke sana-kemari, seolah memaki hidupnya.

Perempuan berambut sebahu, sedikit ikal ini, mengaku bertarif Rp 100 ribu sekali main. Dalam semalam dia bisa melayani lak-laki hidung belang antara 5 sampai 7 orang, bahkan lebih.

"Ngapain juga orang-orang itu pake nutup-nutup tempat ini (lokalisasi)? Emang mereka (pemerintah) mau melunasi utang-utang kita apa? Utangku banyak, utangku segunung," makinya dengan logat Suroboyoan dan tanpa menyebut berapa nominal utangnya kepada si mucikari.

Setelah sesaat ngobrol, Yanti tidak serta merta membiarkan merdeka.com pergi begitu saja. Dia menghadang dan 'merampas' sebungkus rokok yang baru saja dibeli di kios depan wisma.

Kemudian dengan tubuh gontainya karena pengaruh alkohol itu, dia masuk ke dalam wisma dan menghilang di balik dinding bangunan sederhana yang tak jauh beda dengan rumah penduduk itu.

Namun, sebentar lagi, angkuh tembok lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ini, hanya tinggal cerita. Sebab, Pemkot Surabaya akan segera merehabilitasi lokalisasi ini, paling lambat tahun 2014, Kota Surabaya sudah harus bebas dari bisnis prostitusi. Apa mungkin Bu Risma?

Baca Juga:
Warga perkirakan Risma akan kesulitan tutup Gang Dolly
Risma: Saya pasti bisa menutup Gang Dolly
Sejarah Gang Dolly sampai terbesar di Asia Tenggara
Kerja apa penghuni Dolly setelah ditutup?

(mdk/war)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.