Tiga mahasiswa UGM bikin mobil berbahan bakar limbah plastik
Panas gas buang mobil mencapai 400-500 derajat celcius. Suhu tersebut dapat mengonversi limbah plastik menjadi bahan bakar. Namanya Pyrolysis proses. Prosesnya dilakukan konversi dengan suhu. Ada suhu 400-500 derajat celcius. Dari plastik akan terkonversi jadi gas, nanti setelah dingin akan jadi minyak.
Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Herman Amrullah, (Tim Manajer dari Smart Car UGM), Sholahuddin Alayyubi (Technical) dan Thya Araujo (sekretaris) mengembangkan sebuah mobil dengan limbah plastik sebagai bahan bakarnya. Berkat ide mengembangkan limbah plastik sebagai bahan bakar alternatif, ketiganya berhasil keluar menjadi pemenang kompetisi Shell Ideas360 di London, beberapa waktu lalu.
Herman menjelaskan dalam kompetisi di London itu timnya berhasil mengalahkan 3.336 mahasiswa dari berbagai universitas yang berasal dari 140 negara. Tim dari UGM ini juga mampu menyisihkan tim-tim tangguh dari sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Prancis, Amerika Serikat, dan Australia.
Herman menerangkan ide mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif sudah muncul sejak lama. Bahkan timnya pernah menggunakan sepeda motor untuk mewujudkan ide tersebut. Hanya saja karena ada beberapa pertimbangan akhirnya ide kendaraan bermotor menggunakan limbah plastik ini akhirnya dilakukan di mobil.
"Alasannya, panas dari gas buang mobil mencapai 400-500 derajat celcius. Suhu tersebut dapat mengonversi limbah plastik menjadi bahan bakar. Namanya Pyrolysis proses. Prosesnya kita lakukan konversi dengan suhu. Ada suhu 400-500 derajat celcius. Dari plastik akan terkonversi jadi gas, nanti setelah dingin akan jadi minyak," ungkap Herman di UGM, Senin (23/7).
Herman menjabarkan konsep mobil berbahan bakar limbah plastik ini dengan menggunakan sebuah prototype mobil mini. Di samping mesin mobil dipasang tabung. Tabung tersebut merupakan tempat masuknya plastik yang sudah dipotong-potong sekitar enam sampai delapan milimeter.
Nantinya, kata Herman, panas dari knalpot mobil akan disalurkan menuju tabung tersebut. Sehingga plastik menjadi gas dan akan menjadi minyak setelah dingin.
"(Kami) ingin buat mobil yang mengatasi masalah limbah plastik dan emisi karbondioksida dalam kendaraan. Untuk reaktornya dirancang mampu menampung dua Kg limbah plastik. Jenis plastiknya semua plastik bisa tapi plastik pvc tidak disarankan. Soalnya kalau dikonversi mengandung gas klorida sehingga berbahaya dapat menyebabkan korosi mesin juga," papar Herman.
Herman mengungkapkan jika dikonversikan maka dua kilogram sampah akan bisa menghasilkan dua liter bahan bakar. Plastik, lanjut Herman asal usulnya produk turunan minyak bumi. Lalu plastik ini dikonversi kembali jadi minyak.
"Masih harus ada step selanjutnya agar bahan bakar alternatif tersebut bisa menjalankan mobil," ulas Herman.
Sedangkan menurut Sholahuddin dengan teknologi Microagle Culvation Suport (MCS) yang dikembangkan oleh timnya, karbondioksida yang dikeluarkan mobil akan berkurang 16 persen. Berkurangnya karbondioksida ini sudah dihitung timnya di laboratorium.
"Dari analisis laboratorium, tanam microagle ditaruh di dalam mobil, setelah tujuh hari baru kita ambil. Kita lihat karbondioksida berkurang 16 persen selama tujuh hari," tutup Sholahuddin.
Baca juga:
Mahasiswa UB ciptakan alat penurun kadar logam ikan sebelum dikonsumsi
Fury Wars, penetral limbah cair tahu temuan mahasiswa UB
Mahasiswa UB bikin kosmetik berbahan kulit kelinci
Keren, Mahasiswa ITS ciptakan baterai gel dari tomat
Mahasiswa UNS kembangkan desa wisata dengan gerakan vertical garden
Mahasiswa UB sulap bayam, kulit jeruk dan kulit pisang jadi listrik