Tenun Baduy ramai diminati wisatawan dalam & luar negeri
Keunggulan tenun Baduy selain rajutan yang dikerjakan secara tradisional juga warnanya berbeda dengan tenun lain.
Kerajinan tenun hasil produksi masyarakat adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Selama ini, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke wisata budaya Baduy membeli kain tenun tradisional dengan jumlah banyak.
"Keunggulan tenun Baduy itu, selain rajutan sendiri yang dikerjakan secara tradisional juga warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, dilansir Antara, Sabtu (21/5).
Mereka para wisatawan itu tertarik dengan tenun Baduy karena cukup unik dan berbeda dengan tenun lainnya di Tanah Air. Wisatawan tersebut membeli tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan maupun digunakan sendiri.
Selain itu juga tenun Baduy dijadikan sebagai oleh-oleh atau buah tangan untuk cinderamata. Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Baduy adalah wisatawan domestik dari Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bekasi,sedangkan mancanegara, seperti dari Belanda, Jerman, Amerika Serikat dan Swiss.
"Kami merasa bangga produk tradisional Baduy diminta wisatawan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," ujarnya.
Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domestik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.
Adapun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000/busana.
"Selama ini banyak wisatawan domestik dan dunia semakin mencintai produk Baduy," katanya.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Herisnen mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.
Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual. Biasanya, menurut Herisnen, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.
Para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.
"Kami terus mempromosikan tenun Baduy agar bisa mendunia sehingga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," katanya.
Baca juga:
Ekspor busana muslim RI terus meroket, tembus USD 4,57 M di 2015
Intip pembuatan kreasi unik dari bonggol jagung di Bogor
Intip pembuatan kain khas Suku Banjar
Canggihnya alat pemeras madu otomatis karya mahasiswa UB
Produk pakaian asal Bali laris manis di Amerika serikat
Souvenir patung kayu Indonesia laku keras di Rusia
Mulai rendang hingga gado-gado dipamerkan di Maroko