Tawas Ut: Tanaman Endemik Kalimantan Ini Lebih Efektif Turunkan Gula Darah dari Obat Standar
Peneliti Unej membuktikan Tawas Ut, tanaman endemik Kalimantan, lebih efektif turunkan gula darah dari obat standar. Ini membuka harapan baru bagi penderita diabetes dan kemandirian farmasi nasional.
Penelitian inovatif dari Universitas Jember (Unej) telah mengungkap potensi besar Ampelocissus rubiginosa lauterb, atau yang dikenal masyarakat Dayak sebagai "tawas ut" atau "panamar peri". Tanaman liar endemik Kalimantan ini terbukti secara ilmiah mampu menurunkan kadar gula darah. Riset ini menawarkan harapan baru di tengah tingginya angka penderita diabetes di Indonesia.
Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Unej berhasil membuktikan bahwa ekstrak akar tanaman ini memiliki efektivitas yang jauh melampaui obat antidiabetes standar. Temuan ini sangat relevan mengingat Indonesia menghadapi tantangan serius dalam penanganan diabetes. Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengembangkan obat-obatan herbal lokal.
Dengan sekitar 19,5 juta penduduk Indonesia menderita diabetes, menjadikan negara ini peringkat kelima di dunia, kebutuhan akan solusi pengobatan yang efektif dan terjangkau sangat mendesak. Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 90 persen turut mendorong eksplorasi kekayaan hayati Nusantara.
Tawas Ut: Harapan Baru di Tengah Krisis Diabetes Nasional
Indonesia menghadapi beban diabetes yang kian berat, dengan pengeluaran negara mencapai Rp95 triliun untuk biaya pengobatan saja. Jumlah penderita yang mencapai 19,5 juta jiwa menempatkan Indonesia pada posisi kelima secara global. Kondisi ini diperparah dengan tren penderita diabetes yang kini menjangkiti usia produktif, bahkan sejak usia 30 tahun.
Dekan Fakultas Farmasi Unej, Prof. Ari Satia Nugraha, menyoroti bahwa "Diabetes itu penyakit kronis, pengobatannya membutuhkan jangka panjang. Dan trennya kini sudah menjangkuti usia produktif, bahkan usia 30 tahun. Sementara kita punya 6.000 spesies tanaman obat yang belum sepenuhnya dieksplorasi." Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku obat hingga 90 persen menciptakan hambatan biaya bagi masyarakat. Situasi ini mendorong tim peneliti Unej untuk menggali potensi kekayaan hayati Nusantara.
Ampelocissus rubiginosa lauterb, atau Tawas Ut, adalah tanaman merambat yang tumbuh liar di hutan Kalimantan. Masyarakat Dayak telah lama menggunakan Tawas Ut untuk menyembuhkan luka dalam maupun luar. Namun, kandungan antidiabetesnya belum pernah diteliti secara ilmiah sebelum riset Unej ini.
Penelitian ini menjadi krusial untuk menemukan alternatif pengobatan yang terjangkau dan berbasis lokal. Pengembangan obat herbal dari Tawas Ut dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian farmasi nasional.
Mekanisme Unik Tawas Ut dalam Menurunkan Gula Darah
Tawas Ut memiliki tampilan yang unik, dengan akar menyerupai ketela. Namun, teksturnya akan mengeras seperti kayu jati jika kering, sehingga harus segera diproses saat masih basah. Sampel pertama tanaman ini diperoleh dari Kalimantan pada tahun 2015, memulai perjalanan riset hampir satu dekade.
Prof. Ari Satia Nugraha, yang telah meneliti tanaman obat selama hampir 20 tahun, menyatakan bahwa "Ekstrak tanaman itu termasuk unik, serta memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi. Riset tersebut menemukan bahwa ekstrak etanol akar tanaman itu mampu menghambat enzim pemecah gula dalam darah dengan efektivitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Acarbose, obat antidiabetes standar yang umum digunakan."
Secara sederhana, Tawas Ut bekerja dengan menghambat enzim yang memecah karbohidrat menjadi gula di usus. Tanaman ini mengandung komponen fenolik dan antioksidan yang membantu menurunkan kadar gula darah. Dengan demikian, jumlah gula yang masuk ke aliran darah setelah makan dapat berkurang secara signifikan.
Dalam uji laboratorium, ekstrak akar Tawas Ut terbukti jauh lebih efisien dalam menghambat enzim pemecah karbohidrat. Untuk mencapai efek yang sama, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis yang hampir lima kali lebih kecil. Ini menunjukkan aktivitas zat aktif yang sangat kuat pada tanaman endemik Kalimantan ini.
Penemuan Senyawa Baru dan Langkah Selanjutnya untuk Tawas Ut
Para peneliti berhasil mengidentifikasi tiga zat aktif utama dalam akar Tawas Ut, yang semuanya termasuk dalam keluarga flavonoid. Flavonoid adalah senyawa alami yang juga ditemukan dalam teh hijau, anggur merah, dan berbagai buah beri, dikenal luas karena aktivitas antioksidannya. Menariknya, ketiga senyawa ini baru pertama kali ditemukan pada spesies tanaman tersebut.
Penelitian tentang Tawas Ut ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai institusi. Kolaborasi melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), James Cook University Australia, dan University of Wollongong Australia. Hasil riset ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Biologically Active Products from Nature pada Desember 2025.
Prof. Ari Satia Nugraha menegaskan bahwa "Kami sudah menyaring puluhan tanaman dari Indonesia, dan tidak ada yang seefektif itu. Uji in vitro-nya bagus, lebih baik daripada senyawa standar. Lalu kami mengonfirmasi dengan menggunakan model hewan uji, dan hasilnya juga sangat jelas. Ini mendukung apa yang telah diketahui masyarakat Dayak selama berabad-abad bahwa tanaman itu memang berkhasiat." Validasi ilmiah ini mentransformasi pengetahuan tradisional menjadi produk kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Meskipun demikian, seluruh hasil penelitian ini masih berasal dari uji laboratorium dan uji pada hewan percobaan. Serangkaian uji klinis lebih lanjut pada manusia masih diperlukan sebelum Tawas Ut dapat digunakan secara luas. Proses ini penting untuk memastikan keamanan dan efikasi penuh sebelum menjadi obat herbal yang terstandar.
Sumber: AntaraNews