Tanggapi IDI, Pemerintah Sebut Data Kasus Meninggal Hanya yang Terkonfirmasi Positif
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, angka kasus meninggal adalah yang terkonfirmasi positif Covid-19. Hingga hari ini, Minggu (19/4), jumlahnya 582 orang.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut data kematian akibat Covid-19 yang disampaikan pemerintah tidak sesuai temuan di lapangan. Sebab, angka kematian di rumah sakit dua kali lebih besar dibanding data yang dimiliki pemerintah.
Menanggapi itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, angka kasus meninggal adalah yang terkonfirmasi positif Covid-19. Hingga hari ini, Minggu (19/4), jumlahnya 582 orang.
"Tentunya kami tidak memasukkan di ke angka 582 ini pasien meninggal dalam status belum terkonfirmasi positif, karena bisa saja bahwa pasien tersebut bukan Covid-19," kata dia saat konferensi Pers di Gedung BNPB, Minggu (19/4).
Yuri kembali menegaskan, angka akumulatif yang dibeberkan ke hadapan publik terkait kasus meninggal dunia adalah yang terkonfirmasi positif.
Namun, jika pasien dalam pengawasan sebelum meninggal dunia sempat melakukan pemeriksaan swab lalu positif, maka pasien itu akan dimasukan ke data konfirmasi Covid-19.
"Jadi tidak seluruh pasien meninggal selalu kita nyatakan sama dengan positif Covid-19, sehingga kemudian dijumlahkan. Karena kita hanya melaporkan kasus meninggal konfirmasi positif," ucap dia.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia menilai data kematian akibat Covid-19 tidak sesuai temuan di lapangan. Sebab, angka kematian di rumah sakit dua kali lebih besar dibanding data yang dimiliki pemerintah.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih, memiliki keyakinan itu.
"Laporan dari rumah sakit memasukkan juga pasien meninggal saat dirawat dengan status PDP. Yang status PDP tersebut bisa jadi belum sempat diperiksa swab, atau sudah diperiksa tapi belum keluar hasilnya," kata Daeng kepada merdeka.com, Sabtu (18/4).
Selain itu, pemeriksaan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) belum dilakukan semua wilayah. Sehingga, kata dia, pasien dalam status PDP yang meninggal belum sempat dilakukan pemeriksaan secara PCR padahal itu sangat mempengaruhi akurasi data kematian dari virus ini.
Dia mendesak pemerintah segera memperluas dan memperbanyak tes PCR di seluruh provinsi. Daeng meyakini, pemerintah akan mendapat data akurat mengenai jumlah positif Covid-19 setelah memakai data ini.
"Perlu perluasan dan percepatan testing supaya datanya cepat didapat," kata dia.
Ditambahkan Wakil Ketua Umum PB IDI, Slamet Budiarto, data yang disampaikan pemerintah memang tidak secara tepat menggambarkan kondisi saat ini.
"Kalau tes PCR hasilnya 2 hari pasti hasilnya lebih besar dari sekarang," kata Slamet.
Reporter: Ady Anugrahadi
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Bantu Tangani Corona, PJB Salurkan Rp10 Miliar untuk Tenaga Medis
Pemerintah Dapat Tambahan 20.000 Reagen untuk Perbanyak Tes Corona
34 Penumpang KM Kelud Dipulangkan Setelah Lima Hari Dikarantina
Virus Covid-19 Diprediksi Mulai Masuk Indonesia pada Januari 2020
Wishnutama Imbau Dinas Pariwisata Bersiap Hadapi Lonjakan Wisata Pasca Corona
RS UNS Ditunjuk Jadi Rujukan Lini Kedua Covid-19 di Jawa Tengah
Pungli BLT Pandemi Corona di Depok Bukti Rendahnya Integritas