LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tak ada air di sekolah, anak pelosok ini jalan 5 km naik gunung

Ini kisah Amrah, pemuda asal Sulawesi Tenggara yang harus berjuang keras untuk bisa menempuh pendidikan.

2015-03-24 00:04:00
Anak Sekolah
Advertisement

Sekolah adalah barang yang mahal bagi Amrah Susila Rahman (19). Anak kedua dari lima saudara ini harus menempuh derita yang luar biasa hanya untuk mendapat pendidikan.

Amrah bersama keluarga tinggal di pedalaman Sulawesi Tenggara, tepatnya di desa Kafofo, Kecamatan Kontukowuna, Kabupaten Muna. Dari kampungnya saja perlu waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke kota.

Sedari kecil Amrah sudah ingin masuk pesantren, maka dengan hati ikhlas Amrah pun menuju Pondok Pesantren Subulussalam, Muna.

"Pesantren sangat sulit dijangkau karena akses kendaraan jarang dan sangat jauh dari tempat tinggal," sebut Tim Penulis buku 'Mutiara Terpendam' yang diterbitkan oleh Pendidikan Islam Kemenag, Senin (23/3).

Di pesantren ini pun Amrah tidak hidup nyaman. Selain berpisah dengan orang tua, Amrah dihadapkan dengan kondisi pesantren yang memprihatinkan.

Di antaranya santri di pesantren tersebut sering kekurangan makanan. Jadi mau tak mau, terkadang makan hanya satu kali dengan nasi jagung tanpa lauk.

"Karena dukungan dana pemerintah sangat minim dan kebutuhan hanya bergantung dari sedekah orang kaya," sebut buku tersebut.

Tak sampai situ, pesantren ini pun sering kekurangan pasokan air. Sehingga mereka harus mencari air dengan naik turun gunung sepanjang 5 km dengan menenteng jeriken seberat 5 kg.

"Banyak orang sukses di luar sana yang mengalami hal yang lebih parah. Kalian harus tetap semangat lebih giat agar apa yang dicita-citakan dapat diraih," ujar pengasuh Amrah.

Enam tahun di pesantren dan didera banyak cobaan membuat Amrah semakin kuat. Kesabaran dan semangatnya membuahkan hasil dia diterima seleksi program Program Beasiswa Santri Berprestasi untuk jurusan Ilmu Falak IAIN Walisongo, Semarang.


Meski menuju kesana harus mengarungi laut dan menempuh perjalanan darat berjam-jam karena tak ada biaya naik pesawat, hati Amrah tetap girang karena meski badan terasa pegal diguncang ombak, dia tahu bahwa hanya selangkah lagi Amrah mencapai mimpinya.

Mimpinya hanya satu mendirikan pesantren yang layak untuk kampungnya dan menjadikan pesantrennya pusat pendidikan di Sulawesi Tenggara.

Advertisement

Baca juga:
Tantang maut,anak SD ke sekolah seberangi sungai dengan seutas tali
Mensos: Ada 3,6 juta anak usia sekolah tak nikmati pendidikan formal
Dikeluarkan dari sekolahan, Rivano kerap murung dan menangis
Gara-gara dendam pribadi, kepala SD pecat tukang sapu dan murid
Ratusan pelajar menari tradisional sambut HUT Kabupaten Kediri

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.