Tahukah Anda? Parigi Moutong Siaga Bencana: Pemkab dan Bapanas Bahas Kesiapan Pangan Hadapi Ancaman Hidrometeorologi
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dan Bapanas berkoordinasi membahas Kesiapan Pangan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Bagaimana strategi menjaga pasokan agar tetap aman?
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) baru-baru ini menggelar pertemuan penting di Jakarta. Diskusi ini berfokus pada kesiapan cadangan pangan pemerintah (CPP) sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman bencana hidrometeorologi yang berpotensi melanda wilayah tersebut. Koordinasi ini menjadi krusial untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat dalam situasi darurat.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, menegaskan bahwa daerahnya memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Kondisi geografis yang didominasi pegunungan curam membuat wilayah ini rawan banjir saat intensitas hujan meningkat. Oleh karena itu, langkah proaktif ini sangat diperlukan guna melindungi ketahanan pangan daerah.
Pertemuan yang berlangsung pada hari Senin tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemkab Parigi Moutong dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan. Kolaborasi dengan pemerintah pusat, khususnya Bapanas, diharapkan mampu memperkuat sistem mitigasi dan respons terhadap potensi kerawanan pangan akibat dampak bencana alam yang tidak terduga.
Ancaman Bencana dan Dampaknya di Parigi Moutong
Parigi Moutong dikenal sebagai salah satu daerah di Sulawesi Tengah yang sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Bupati Erwin Burase menjelaskan, "Parigi Moutong salah satu daerah di Sulawesi Tengah rentan terhadap bencana hidrometeorologi, karena geografisnya memiliki banyak gunung curam yang bisa berpotensi banjir saat terjadi hujan dengan intensitas lebat." Ancaman ini bukan sekadar teori, melainkan telah terbukti dengan serangkaian banjir yang melanda beberapa bulan terakhir.
Dampak bencana hidrometeorologi di Parigi Moutong sangat merusak, tidak hanya pada pemukiman warga dan fasilitas umum. Sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi dan sumber pangan utama masyarakat, juga mengalami kerugian besar. Kerusakan lahan pertanian secara langsung mengancam mata pencarian petani dan berpotensi menimbulkan kerawanan pangan yang serius.
Bupati Erwin Burase menambahkan, "Dampak yang dirasakan masyarakat mulai dari kerusakan lahan pertanian, hilangnya mata pencarian petani, hingga ancaman kerawanan pangan." Situasi ini diperparah dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi curah hujan ekstrem berkepanjangan hingga April 2026. Hal ini semakin mendesak Pemkab untuk memperkuat Kesiapan Pangan.
Strategi Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP)
Menanggapi urgensi ini, Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Indra Wijayanto, menjelaskan mekanisme penggunaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Penggunaan CPP telah diatur secara ketat dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 125, yang membatasi penggunaannya untuk empat tujuan strategis. Tujuan ini dirancang untuk memastikan CPP dimanfaatkan secara efektif dan tepat sasaran dalam menjaga Kesiapan Pangan.
Empat tujuan strategis penggunaan CPP meliputi:
- Bantuan pangan kepada masyarakat yang masuk kategori desil 1 hingga desil 4.
- Pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam bentuk operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah (GPM).
- Bantuan pangan khusus, termasuk program penanganan darurat di dalam negeri.
- Bantuan internasional, seperti yang pernah dilakukan saat mengirimkan beras ke Palestina.
Indra Wijayanto menegaskan, "Tentu pemerintah selalu menyiagakan CPP untuk memenuhi kebutuhan mendesak dalam situasi darurat." Ia juga menambahkan bahwa data penerima bantuan akan selalu diperbarui sebelum penyaluran dilakukan, guna memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi terbaru masyarakat di lapangan. Prinsip ini penting untuk efektivitas program penguatan Kesiapan Pangan.
Kolaborasi dan Program Jangka Panjang untuk Kesiapan Pangan
Pertemuan antara Pemkab Parigi Moutong dan Bapanas ini tidak hanya membahas respons darurat, tetapi juga menyinggung sejumlah program strategis daerah. Upaya ini mencakup penguatan Gerakan Membangun dari Desa (Gerbang Desa) dan pembangunan ketahanan pangan berbasis masyarakat. Program-program ini bertujuan untuk membangun kemandirian pangan dari tingkat akar rumput, sehingga Kesiapan Pangan lebih terjamin.
Selain itu, diskusi juga menyentuh penyediaan logistik bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil, yang seringkali menjadi pihak paling terdampak saat bencana. Prioritas pada kelompok ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam melindungi seluruh lapisan masyarakat. "Secara prinsip, apabila seluruh persyaratan administrasi dan teknis terpenuhi, maka bantuan pangan untuk Kabupaten Parigi Moutong dapat segera direalisasikan," ujar Indra Wijayanto.
Bupati Erwin Burase berharap kolaborasi erat dengan Bapanas dapat mempercepat pemulihan ketahanan pangan pasca-bencana. Lebih dari itu, kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat daya tahan masyarakat Parigi Moutong dalam menghadapi potensi krisis pangan di masa mendatang. Program ini juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi masyarakat pasca bencana, membantu mereka bangkit kembali.
Sumber: AntaraNews