Soroti Temuan Gula Pasir Menumpuk di Gudang Jawa Timur, DPR Desak Polri dan Kejagung Turun Tangan
Kepolisian dan kejaksaan diminta menyelidiki dugaan permainan menyebabkan gula lokal menumpuk dan tidak terserap pasar.
Gudang-gudang pabrik gula pasir belum terjual ditemukan di Situbondo dan Bondowoso, Jawa Timur. Tumpukan gula pasir hasil para petani tebu lokal senilai ratusan miliar rupiah diungkapkan anggota Komisi VI DPR Nasim Khan usai melakukan audiensi dengan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan General Manager (GM) pabrik gula di Regional 4 Jawa Timur, di Pabrik Gula (PG) Prajekan, Bondowoso, Jawa Timur, Minggu (10/8).
Menurut Nasim, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena menghambat pembayaran kepada para petani tebu yang sudah mengeluarkan biaya produksi. Sementara di sisi lain, gula rafinasi yang semestinya hanya untuk industri, malah bebas membanjiri pasar.
"Kalau bisa tidak menunggu pekan depan, besok pun harus ada keputusan. Di regional ini saja, ratusan miliar rupiah belum terbayar. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan,” kata Nasim Khan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (11/8), sebagaimana diberitakan Antara.
Polri dan Kejagung Didesak Usut Dugaan Permainan Gula Lokal di Jatim
Menanggapi temuan tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni mendesak Polri dan Kejaksaan Agung untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan terkait dugaan permainan yang menyebabkan gula lokal menumpuk dan tidak terserap pasar.
“Saya minta Polri dan Kejagung usut tuntas dugaan permainan di balik menumpuknya gula lokal di Jatim ini. Jangan tunggu masalahnya membesar. Kalau ada indikasi pelanggaran, tuntaskan dari sekarang. Komisi III tidak mau kasus besar seperti ini baru diungkap di kemudian hari, atau tahun-tahun berikutnya. Kerugiannya kan terjadi sekarang, petani sedang kesusahan," ujar Sahroni dalam keterangannya, Selasa (12/8).
Sahroni meminta pihak berwajib untuk mengungkap para aktor yang sengaja menciptakan situasi ini untuk meraup keuntungan.
“Apalagi problem utamanya kan sudah terlihat jelas, karena gula rafinasi yang seharusnya khusus industri, dibiarkan membanjiri pasar umum dengan harga murah. Akibatnya, gula lokal tidak terserap, petani kehilangan pendapatan. Maka saya kira ini jelas, diduga kuat ada pihak culas yang mencari untung besar di balik situasi ini. Jadi semua aktornya harus diusut, bahkan sampai kalau ada beking-bekingnya sekalipun,” pungkasnya.