SMRC: Masyarakat Menilai Korupsi di 2020 Lebih Banyak dari Tahun Sebelumnya
Penilaian warga ini tidak bisa dilepaskan dari kasus korupsi yang dibongkar KPK tahun 2020. Terutama kasus yang menjerat Menteri Sosial, Juliari Batubara dan Menteri KKP, Edhy Prabowo.
Masyarakat menilai praktik korupsi di tahun 2020 lebih banyak dibandingkan pada tahun sebelumnya. Hal itu tergambarkan dalam survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) di Desember 2020.
Survei ini mencatat, 55 persen responden menyebut korupsi saat ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Sementara yang menilai korupsi semakin sedikit hanya 13 persen dan yang menilai sama saja 26 persen.
"Mayoritas warga 55 persen menilai korupsi sekarang semakin banyak dibanding tahun lalu. Yang menilai semakin sedikit 13 persen, dan yang menilai sama saja 26 persen," ujar Direktur Eksekutif SMRC, Sirojuddin Abbas, dalam rilis survei secara daring, Selasa (29/12).
Survei SMRC ini dilakukan melalui sambungan telepon pada 23-26 Desember 2020. Sebanyak 1.202 responden dipilih dari koleksi sampel acak survei tatap muka yang telah dilakukan SMRC dengan jumlah proporsional menurut provinsi.
Survei ini memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Abbas mengatakan, penilaian warga ini tidak bisa dilepaskan dari kasus korupsi yang dibongkar KPK tahun 2020. Terutama kasus yang menjerat Menteri Sosial, Juliari Batubara dan Menteri KKP, Edhy Prabowo.
"Dugaan kasus korupsi di kementerian Sosial dan Kementerian Perikanan tampaknya menyumbang bagi penilaian negatif warga tentang korupsi di Indonesia," ujar Abbas.
Baca juga:
Survei Elektabilitas Partai SMRC: PDIP Teratas, Gerindra Stabil dan Sisanya Menurun
Survei SMRC: Kalah dari Ganjar, Prabowo Ditinggal Pendukungnya
Survei Capres SMRC: Ganjar Teratas, Prabowo Diprediksi Berat Jika Bertarung di 2024
SMRC: Partisipasi Pilkada di Perkotaan Lebih Rendah Dibanding Warga Pedesaan
Survei SMRC: 46% Masyarakat Berpendidikan Tinggi Tak Memilih di Pilkada Serentak