Singkawang Genjot Pengukuran Balita 85 Persen, Kunci Percepatan Penurunan Stunting
Pemerintah Kota Singkawang bertekad mencapai target 85 persen cakupan pengukuran balita pada 2026. Upaya ini krusial untuk percepatan penurunan stunting Singkawang yang masih menjadi prioritas utama.
Pemerintah Kota Singkawang menetapkan target ambisius untuk mencapai cakupan pengukuran balita sebesar 85 persen pada tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mempercepat penurunan angka stunting di wilayah tersebut. Stunting masih menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Staf Ahli Wali Kota Singkawang Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Antin Suprihatin, menekankan pentingnya isu ini bagi pembangunan daerah. Pemerintah daerah terus memperkuat layanan kesehatan masyarakat melalui berbagai program pendukung. Salah satunya adalah optimalisasi peran posyandu di seluruh kecamatan.
Data terbaru menunjukkan bahwa cakupan pengukuran balita di Singkawang masih jauh dari target nasional. Pada tahun 2025, angka cakupan hanya 48,35 persen, bahkan menurun menjadi 39,99 persen pada triwulan pertama 2026. Situasi ini menuntut langkah percepatan dan kolaborasi dari semua pihak terkait.
Tantangan dan Urgensi Penurunan Stunting di Singkawang
Angka cakupan pengukuran balita yang rendah menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya penurunan stunting Singkawang. Capaian 39,99 persen pada awal 2026 masih jauh di bawah target nasional sebesar 85 persen. Kondisi ini memerlukan intervensi serius dan terkoordinasi dari seluruh elemen masyarakat.
Selain cakupan pengukuran yang minim, prevalensi stunting di Kota Singkawang juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2025, angka stunting mencapai 15,68 persen, naik dari 13,65 persen pada tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa persoalan stunting memerlukan penanganan yang lebih intensif.
Antin Suprihatin menyatakan bahwa persiapan yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan jumlah balita yang terukur. Targetnya adalah mencapai cakupan nasional 85 persen dan menurunkan angka stunting di bawah 18 persen. Keberhasilan ini akan sangat menentukan kualitas generasi penerus Kota Singkawang.
Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang, Achmad Hardin, menjelaskan bahwa pengukuran balita secara rutin sangat vital. Deteksi dini kondisi gizi anak memungkinkan intervensi cepat jika ditemukan masalah gizi. Ini adalah langkah proaktif dalam mencegah stunting.
Strategi Peningkatan Cakupan Pengukuran Balita dan Kolaborasi Lintas Sektor
Pemerintah Kota Singkawang mengintensifkan upaya penguatan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah pengukuran balita secara rutin setiap bulan. Pengukuran ini dapat dilakukan di posyandu, puskesmas, maupun melalui kunjungan rumah.
Dengan data pengukuran yang lebih akurat dan merata, petugas kesehatan dapat segera memberikan penanganan. Intervensi dini sangat penting bagi balita yang terindikasi mengalami gangguan pertumbuhan atau risiko stunting. Penanganan cepat dapat menekan risiko stunting sedini mungkin.
Program percepatan penurunan stunting tidak dapat diemban oleh pemerintah saja. Dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan, mulai dari perangkat daerah hingga tenaga kesehatan dan kader posyandu. Masyarakat juga memiliki peran krusial dalam menyukseskan program ini.
Saat ini, Kota Singkawang memiliki 173 posyandu yang tersebar di lima kecamatan dan 26 kelurahan. Jumlah balita yang tercatat dalam aplikasi e-PPGBM mencapai 14.843 anak. Namun, partisipasi dalam pengukuran masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Komitmen Bersama untuk Masa Depan Generasi Singkawang
Pemerintah daerah menilai perlunya penguatan koordinasi dan partisipasi masyarakat agar target nasional dapat tercapai. Achmad Hardin menegaskan bahwa ini adalah tanggung jawab besar bersama. Dukungan semua pihak sangat diharapkan agar data pengukuran balita semakin baik tahun ini.
Program prioritas bidang kesehatan tahun 2026 ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Kalimantan Barat. Surat edaran tersebut berisi tentang percepatan penurunan stunting di seluruh wilayah. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah gizi.
Antin Suprihatin mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui kader posyandu untuk bersama-sama mewujudkan program ini. Kolaborasi yang kuat akan menjadi kunci keberhasilan. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Sumber: AntaraNews