Setwapres Apresiasi Program Penurunan Stunting di Kediri, Target Nasional Kian Dekat
Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) mengapresiasi program penurunan stunting di Kota Kediri yang dinilai berhasil, seiring upaya nasional mencapai target 5% pada 2030.
Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) Republik Indonesia memberikan apresiasi tinggi terhadap program penurunan stunting yang dilaksanakan di Kota Kediri, Jawa Timur. Kinerja Kota Kediri dalam upaya penanggulangan stunting ini dinilai sangat baik dan patut menjadi contoh bagi daerah lain. Tim Setwapres secara khusus memilih Kediri sebagai lokasi pemantauan untuk melihat langsung implementasi program di lapangan.
Ali Sadikin, Tenaga Ahli Advokasi Kebijakan Publik Sekretariat Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) Setwapres, mengungkapkan alasan pemilihan Kediri. Ia menyatakan bahwa Kota Kediri telah mendapatkan penghargaan peringkat kedua untuk kabupaten/kota dengan kinerja terbaik dalam penanganan stunting. Kunjungan ini bertujuan untuk memahami lebih dalam bagaimana program tersebut berjalan dan sejauh mana dampaknya di masyarakat.
Dalam kunjungannya, Ali Sadikin meninjau langsung aktivitas posyandu di Pesantren Wali Barokah Kediri. Ia menekankan pentingnya memantau kegiatan dari tingkat paling bawah, yaitu posyandu, yang menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting. Para kader posyandu di Kediri menunjukkan proaktivitas yang tinggi dalam menjelaskan langkah-langkah program dan tindakan yang diambil untuk mengatasi potensi stunting pada bayi maupun orang tua.
Kinerja Unggul Kota Kediri dalam Penurunan Stunting
Pihak Setwapres sangat mengapresiasi langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh posyandu di Kota Kediri. Keaktifan kader dalam memberikan edukasi dan intervensi dini menjadi kunci keberhasilan program ini. Ali Sadikin berharap Pemerintah Kota Kediri dapat terus meningkatkan kinerja dan komitmennya dalam program penurunan stunting, meskipun ada tantangan efisiensi anggaran.
Program prioritas seperti ini diharapkan bisa terus ditingkatkan dan diperbaiki agar hasilnya semakin optimal. Indikator penting yang perlu mendapat perhatian lebih adalah terkait imunisasi dasar, pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Fokus pada indikator-indikator ini akan sangat membantu dalam mempercepat penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri, M. Fajri Mubasysyr, menegaskan komitmen Pemkot Kediri dalam penanganan stunting. Data menunjukkan bahwa dari sekitar 14 ribu balita yang teridentifikasi stunting, kini jumlahnya berhasil ditekan menjadi sekitar 700 balita. Ini merupakan pencapaian yang signifikan berkat kerja keras berbagai pihak.
Tantangan dan Target Nasional Penurunan Stunting
Secara nasional, angka stunting masih menjadi perhatian serius pemerintah. Ali Sadikin mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di tingkat nasional saat ini masih sekitar 19 persen. Pemerintah berupaya keras untuk mengatasi masalah ini, dengan target ambisius menurunkan angka stunting hingga 5 persen pada tahun 2030.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting Indonesia adalah 19,8 persen. Angka ini sedikit lebih rendah 0,3 persen poin dari target 20,1 persen yang ditetapkan untuk tahun 2024. Namun, capaian 19,8 persen ini juga menjadi tantangan baru, mengingat target penurunan stunting pada tahun 2025 adalah 18,8 persen, yang membutuhkan upaya lebih keras dan kolaborasi yang lebih erat dari semua pihak.
Tantangan terbesar dalam penurunan stunting terkonsentrasi di enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar. Provinsi-provinsi tersebut meliputi Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita). Fokus intervensi di wilayah-wilayah ini sangat krusial untuk mencapai target nasional.
Strategi Pencegahan dan Peran Komunitas Lokal
Strategi Nasional Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (Stranas P3S) yang disusun oleh Setwapres lebih mengedepankan faktor pencegahan. Strategi ini memastikan intervensi dilakukan sejak masa prakelahiran, dengan fokus pada 11 intervensi spesifik untuk remaja putri dan ibu hamil, serta sembilan intervensi sensitif. Pendekatan ini bertujuan untuk memutus rantai stunting sejak dini.
Peran komunitas lokal sangat vital dalam keberhasilan program ini, sebagaimana terlihat di Kediri. Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Kiai Sunarto, menjelaskan bahwa pertemuan posyandu di pesantrennya digelar rutin. Posyandu tersebut melayani sekitar 70 anak balita, tidak hanya dari keluarga besar yang tinggal di pesantren, tetapi juga masyarakat sekitar. Selain balita, ibu hamil dan lansia juga menjadi perhatian utama posyandu.
Keterlibatan aktif pesantren dan masyarakat sekitar dalam program posyandu menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan elemen masyarakat. Kolaborasi semacam ini menjadi model efektif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Dengan komitmen yang berkelanjutan dan intervensi yang tepat sasaran, target penurunan stunting nasional diharapkan dapat tercapai.
Sumber: AntaraNews