Sekolah Perempuan Pangkep Gencarkan Kampanye Mitigasi Bencana Hadapi Perubahan Iklim
Sekolah Perempuan di Pangkep bersama YKPM aktif mengkampanyekan mitigasi bencana untuk menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya bagi perempuan pesisir dan kepulauan. Bagaimana peran vital mereka dalam melindungi keluarga?
Sekolah Perempuan, sebuah inisiatif yang digagas oleh warga pesisir dan kepulauan di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, bersama Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM), kini gencar mengkampanyekan mitigasi bencana. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan mengancam. Kegiatan kampanye ini bertujuan untuk membekali masyarakat, khususnya kaum perempuan, dengan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi potensi bencana alam.
Kampanye mitigasi bencana ini tidak hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka di Sekolah Perempuan, tetapi juga disiarkan secara luas melalui Radio Komunitas "Si Porennu" di Pulau Sabutung, Kecamatan Liukang Tupabiring Utara. Metode penyebaran informasi yang beragam ini memastikan pesan-pesan penting mengenai kesiapsiagaan bencana dapat menjangkau lebih banyak warga. Inisiatif ini menunjukkan komitmen kuat dalam membangun ketahanan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Fitri, Ketua Sekolah Perempuan (Muda) di Pulau Sabutung, Pangkep, mengungkapkan bahwa pertemuan berkala di Sekolah Perempuan turut menyosialisasikan peran krusial perempuan dalam mengantisipasi bencana akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Sosialisasi ini sangat penting mengingat posisi perempuan sebagai kepala keluarga saat suami melaut, sehingga mereka seringkali menjadi pengambil keputusan utama dalam situasi darurat.
Peran Sentral Perempuan dalam Kesiapsiagaan Bencana
Perempuan di wilayah pesisir dan kepulauan memiliki peran yang sangat sentral dalam menjaga keselamatan keluarga, terutama ketika bencana melanda. Fitri menjelaskan, "Misalnya saat air pasang bersamaan dengan derasnya air hujan turun, maka gelombang akan tinggi yang dipicu oleh angin kencang dan naiknya permukaan air laut." Dalam kondisi seperti ini, perempuan nelayan harus memiliki pemahaman yang baik tentang cara menyelamatkan anggota keluarganya dari bahaya banjir dan ancaman lainnya.
Penguatan kapasitas perempuan menjadi fokus utama dalam program ini, mengingat mereka seringkali menjadi garda terdepan dalam menghadapi situasi darurat. Mereka diharapkan mampu mengambil keputusan cepat dan tepat untuk melindungi anak-anak serta harta benda. Inisiatif ini bukan hanya tentang mitigasi bencana, tetapi juga pemberdayaan perempuan secara menyeluruh dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Nurhayati, Divisi Advokasi dan Pengorganisasian YKPM, menambahkan bahwa dalam pendampingan warga di pulau tersebut, pihaknya selalu menekankan pentingnya penguatan kapasitas perempuan agar lebih berdaya. "Kami berusaha membangun kesadaran para perempuan pulau agar bisa berdaya, baik dari sisi kesetaraan gender, lingkungan sosial hingga politik," ujarnya. Pendekatan holistik ini bertujuan menciptakan perempuan yang mandiri dan tangguh.
Dukungan Pemerintah untuk Pemberdayaan Perempuan
Pemerintah Kabupaten Pangkep melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (DP2KBP3A) juga memberikan dukungan penuh terhadap upaya pemberdayaan perempuan. Nurliah Sanusi, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Pangkep, menyatakan bahwa pihaknya bersama mitra terus mendorong penguatan pemberdayaan perempuan dari berbagai aspek, termasuk sosial, ekonomi, dan hukum.
Tujuan utama dari dukungan ini adalah agar perempuan dapat mencapai kemandirian dan memiliki peran yang setara dengan laki-laki, tanpa mengesampingkan kodratnya. Dengan demikian, perempuan diharapkan mampu melindungi diri sendiri dan keluarganya dengan kemampuan beradaptasi serta mengantisipasi kondisi di sekitarnya, termasuk bencana alam maupun bencana sosial. Program ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan kesetaraan gender dan ketahanan masyarakat.
Inisiatif Sekolah Perempuan dan dukungan dari berbagai pihak menunjukkan sinergi yang kuat dalam membangun masyarakat pesisir yang lebih tangguh dan berdaya. Edukasi mitigasi bencana yang terintegrasi dengan pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
Sumber: AntaraNews