Sekolah bagi mereka yang terpencil
Kabut turun di muka rumah. Hawa terasa dingin. Sejauh mata memandang pucuk pohon pinus terlihat ditutupi awan lembap berwarna putih. Karlina (14) melihat jalanan di muka rumahnya masih lengang.
Kabut turun di muka rumah. Hawa terasa dingin. Sejauh mata memandang pucuk pohon pinus terlihat ditutupi awan lembap berwarna putih. Karlina (14) melihat jalanan di muka rumahnya masih lengang.
Dia terbiasa bangun subuh. Memulai hari dengan menanak nasi, bergegas mandi. Lalu, memeriksa buku-buku dalam tas sebelum berjalan kaki selama satu jam ke sekolah.
Tinggal di ujung utara Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Kediaman Karlina berbatasan langsung dengan hutan lindung lereng Gunung Slamet. Hidup dari keluarga buruh tani, remaja seusianya umumnya dianggap sudah cukup kantongi bekal ijazah sekolah dasar.
Di dusun Karanggondang yang terpencil, kawan sebaya Karlina lebih banyak menghabiskan waktu di sawah. Sebagian lagi bahkan merantau ke Jakarta, sejak usia belia.
Karlina punya mimpi. Ingin menjadi dokter. Demi harapan itu, ia melanjutkan sekolah menengah pertama di sekolah alam MTs Pakis di Kampung Pesawahan Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok. Madrasah berbasis agroforestry itu diselenggarakan cuma-cuma.
Tak mewajibkan anak didiknya berseragam, tak memungut biaya pendaftaran. Paling utama terjangkau sehingga tak membebani tambahan ongkos transportasi.
"Saya bercita-cita menjadi dokter. Saya harus berani pantang takut," tulis Karlina di sobekan kertas yang ditempel di dinding sekolahnya.
Dari dusun Karanggondang, selain Karlina, ada 6 siswa lain yang memilih melanjutkan pendidikan di sekolah alam MTs Pakis. Mereka yakni, Sukenti (13) dan Vivitriani (13) teman seperjalanan yang membuat jarak ke sekolah tak terasa jauh. Lebih asyik diisi candaan.
Sukenti misalnya, bercita-cita menjadi penyanyi. Sepanjang perjalanan ke sekolah kadang saling bergurau atau beristirahat sejenak. Memandang telaga Kumpe dari atas bukit melepas kantuk dan jenuh. Orangtua mereka semua, memang tak cukup punya uang untuk ojek atau jasa antar jemput pick up jika harus menyekolahkan ke SMP Negeri terdekat yang berjarak 7 kilometer lebih.
"Saat masuk MTs Pakis setahun lalu, orangtua saya membantu memberi benih tanaman untuk praktik pelajaran pertanian," kata Sukenti, siswa kelas 8 MTs Pakis. "Kalau ayah saya membantu alat pertanian," kata Vivi, siswi kelas 7 MTs Pakis.
Di MTs Pakis yang menginduk pada MTs Maarif Nu 2 Cilongok, tercatat hanya ada 20 siswa. Sebelas orang duduk di bangku kelas 7 dan sembilan orang sisanya duduk di bangku kelas 8.
Berada di ketinggian 800 mdpl, bangunan sekolah yang dirimbuni tanaman itu didirikan di atas tanah seluas 500 meter persegi. Aktivitas belajar mengajar dibantu relawan yang mayoritas merupakan mahasiswa, aktivis juga jurnalis.
Saat ini setidaknya ada 7 orang pendamping. Tetapi memang, praktik pendampingan tiap hari cukup sulit dilakukan mengingat jarak dari Purwokerto tempat relawan tinggal ke MTs cukup jauh. Mau tak mau, Kepala Sekolah MTs Pakis, Isrodin mengajar sendiri pengetahuan umum secara bergantian ke dua kelas. Sedang untuk praktik pertanian kadang dibantu oleh petani warga sekitar untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman cocok tanam.
Isrodin mengatakan, operasional sekolah sampai saat ini tergantung pada swadaya para relawan dan penjualan hasil pertanian yang dikelola siswa. Didirikan sejak tahun 2013, hal yang tak mudah dilakukan memang menjaga semangat agar siswa tetap punya keiinginan bersekolah.
Dari angkatan pertama sejumlah 11 anak hanya 7 yang bertahan sampai lulus dan meneruskan ke sekolah menengah atas. Sedang 4 lainnya putus di tengah jalan karena mesti bekerja membantu orangtua.
"Siswa-siswi di sini mayoritas dari dua dusun yang memang bisa dikatakan terpencil. Karanggondang yang merupakan ujung Desa Sambirata dan pesawahan yang merupakan ujung utara Desa Gununglurah," kata Isrodin.
Di sekolah ini, selain pengetahuan umum, Isrodin memang secara khusus mengajarkan ilmu pertanian sejak dini. Latar belakangnya karena keresahan.
Dia kerap mendapati anak-anak di dua dusun tersebut justru meninggalkan kampung untuk merantau pergi ke kota. Lewat ilmu pertanian, Isrodin menaruh harapan siswa-siswinya kelak tak tercerabut dari akar sosial. Mampu mengembangkan lahan subur lereng Gunung Slamet.
Baca juga:
Telat ke sekolah, bocah sampai nangis karena hukuman gurunya
Sekolah dibakar politikus Gerindra, siswa di Palangka Raya belajar di tenda darurat
Ironi pendidikan, masih ada siswa SMP di Bali tak bisa baca tulis
Miris, siswa MTSN Depok belajar tanpa meja dan kursi