Ironi pendidikan, masih ada siswa SMP di Bali tak bisa baca tulis
Merdeka.com - Kemerdekaan RI telah dirayakan selama 72 tahun, namun masih banyak pendidikan di negeri ini yang belum dicerdaskan. Bahkan pulau Dewata yang bergelimang wisatawan baik asing serta domestik dan dipastikan masyarakatnya bisa berbahasa inggris ternyata ditemukan ada siswa yang belum fasih membaca dan menulis.
Ironisnya siswa itu duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Tidak hanya membaca dan menulis, bahkan berhitung untuk dasar jumlahan, perkalian dan pengurangan pun tak mampu.
Dan itu terjadi di beberapa sekolah di wilayah Bangli. Ini terungkap setelah Bupati Bangli I Made Gianyar bersama Sekda Bangli Ida Bagus Giri Putra, yang jumpa pers dengan awak media, terkait perayaan Hut RI ke 72 di kabupaten Bangli.
Dalam laporan diterimanya, sejumlah siswa yang tidak fasih dalam hal membaca menulis dan berhitung (calistung) ada di SMP N 2 Tembuku Bangli. Terkait itu, pihaknya memastikan akan segera memanggil Kepala Sekolahnya.
"Kami akan mendatangi sekolah dan memastikan siswa tersebut lulusan sekolah dasar (SD) dari mana," jelas Gianyar.
Terlepas dari pembelajaran di sekolah, Ia berharap orang tua siswa juga lebih memperhatikan kegiatan belajar putra-putri di rumah.
"Anak-anak diarahkan untuk belajar, orang tua ikut mengawasi. Kemudian saat anak-anak belajar diusahakan tidak ada gangguan seperti televisi hidup," ujarnya.
Bupati Made Gianyar tidak menampik bahwa di Bangli ditemui persoalan adanya anak yang tidak mau sekolah, malah dibiarkan oleh orang tuanya.
Dengan kondisi seperti ini diharapkannya peran serta masyarakat dilingkungan sekitarnya, mengingat ada beberapa anak yang putus sekolah malah diamini orang tuanya.
"Peran kelian yang notabene dituakan di wiliyah masing-masing bisa memberikan pemahaman bahwa pendidikan sangat penting. Jangan sampai ada anak yang merupakan penerus bangsa tidak sekolah," imbuhnya.
Secara terpisah Kepala SMPN 2 Tembuku I Made Degdeg, menyebut dari total jumlah siswa tahun ajaran 2017/2018 kelas VII sebanyak 158 siswa benar ada empat siswa diantaranya belum fasih membaca.
Bahkan dianatarnya ada yang belum mengenal huruf. "Siswa saat membaca saja mereka harus mengeja, seperti siswa kelas 1 SD," ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut pihak sekolah berupaya memberikan pelajaran tambahan pada siswa. Dengan mencarikan waktu belajar saat jam istirahat.
Ironisnya, ternyata hampir setiap tahun angkatan baru di SMPN 2 Tembuku Bangli, selalu saja ada siswa yang diterima belum fasih calistung. Dan sebagian adalah siswa dari penduduk setempat diwilayah sekolah itu berdiri.
Dengan kondisi seperti ini pihaknya berharap bisa dibangun ruang inklusi, sehingga proses belajar bagi siswa yang belum fasih agar optimal. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya