Sekjen PBB Soroti Nilai Multilateralisme PBB yang Tergerus di Tengah Tantangan Global
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyoroti tantangan global yang mengancam nilai-nilai multilateralisme PBB. Ia menyerukan reformasi demi masa depan kerja sama internasional yang lebih kuat.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, baru-baru ini menyampaikan keprihatinannya di London. Ia menyoroti kondisi multilateralisme global yang kian tergerus. Pernyataan ini disampaikan pada acara peringatan di Methodist Central Hall.
Acara tersebut digelar pada Sabtu (17/1), di lokasi bersejarah tempat Sidang Umum PBB pertama kali diadakan pada tahun 1946. Guterres menekankan perlunya sistem yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan global yang saling berkaitan. Ia juga mendorong para delegasi untuk berani melakukan perubahan signifikan.
Guterres mengingatkan kembali alasan kuat pembentukan PBB pasca-Perang Dunia II sebagai simbol harapan. Ia menyerukan agar semangat keberanian para pendiri PBB 80 tahun lalu dapat dihidupkan kembali. Tujuannya adalah untuk membangun dunia yang lebih baik dan stabil.
Tantangan Multilateralisme PBB di Era Modern
Guterres mengakui bahwa kerja Sidang Umum PBB tidak selalu berjalan mudah atau mulus. Namun, ia menilai lembaga ini sebagai cermin dunia, lengkap dengan segala perpecahan dan harapannya, sekaligus panggung bagi kisah bersama umat manusia yang mengedepankan multilateralisme PBB.
Dalam dekade terakhir, dunia dihadapkan pada konflik brutal di Gaza, Ukraina, dan Sudan yang terus berlanjut. Selain itu, penyebaran kecerdasan buatan (AI) yang cepat juga menimbulkan tantangan baru. Pandemi virus corona turut memperkuat nasionalisme, menghambat kemajuan pembangunan, serta aksi iklim global.
Sekjen PBB tersebut menilai tahun 2025 akan menjadi periode yang sangat menantang bagi kerja sama internasional dan nilai-nilai PBB. Ia menekankan pentingnya sistem multilateralisme yang kuat. Sistem ini harus responsif dan didukung sumber daya memadai untuk mengatasi berbagai tantangan global yang saling terkait.
Sayangnya, Guterres memperingatkan bahwa nilai-nilai multilateralisme saat ini terus terkikis. "Seiring pergeseran pusat kekuatan global, kita memiliki peluang untuk membangun masa depan yang lebih adil atau justru lebih tidak stabil," tambahnya.
Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan PBB
Berbicara di Methodist Central Hall, London, Guterres menyinggung makna simbolis lokasi tersebut. Gedung ini merupakan saksi bisu Sidang Umum PBB pertama yang berlangsung pada 10 Januari 1946. Kala itu, para delegasi harus melewati kota yang terluka akibat perang.
"Saat bom-bom berjatuhan, warga sipil yang ketakutan berlindung di ruang bawah tanah Methodist Central Hall, salah satu tempat perlindungan serangan udara terbesar di London," katanya. Ia menambahkan bahwa kenangan ini menjadi pengingat kuat alasan mendasar pembentukan PBB.
Guterres mendorong para delegasi yang hadir untuk berani melakukan perubahan. "Berani menemukan kembali keberanian mereka yang datang ke gedung ini 80 tahun lalu untuk membangun dunia yang lebih baik," tegasnya. Acara peringatan ini diselenggarakan oleh United Nations Association-UK dan dihadiri lebih dari 1.000 delegasi.
Dalam kunjungannya ke London, Guterres juga bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Keduanya membahas agenda reformasi ambisius PBB. Mereka sepakat bahwa reformasi ini krusial agar PBB mampu menjawab tantangan modern di tengah situasi global yang semakin bergejolak.
Sumber: AntaraNews