LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Sejumlah Wilayah di 'Tapal Kuda' Jatim Mengalami Kekeringan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan puncak musim kemarau terjadi sejak akhir Agustus hingga akhir September 2019. Disusul kemudian masa pancaroba pada Oktober mendatang.

2019-09-08 05:03:00
Kekeringan
Advertisement

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan puncak musim kemarau terjadi sejak akhir Agustus hingga akhir September 2019. Disusul kemudian masa pancaroba pada Oktober mendatang. Berbagai daerah sudah mengantisipasi terjadinya kekeringan di beberapa titik. Seperti yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember yang terus mengirimkan pasokan air ke beberapa kawasan terdampak kekeringan.

"Dari BMKG menyatakan, daerah Tapal Kuda sekarang ini puncak musim kemarau. Bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Ada tapi intensitasnya minim sekali," ujar Heru Widagdo, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember saat dikonfirmasi Merdeka.com, Sabtu (7/9).

Tapal kuda merupakan sebutan untuk daerah di Jawa Timur bagian selatan yang melingkupi Jember dan beberapa kabupaten/kota di sekitarnya.

Advertisement

Sejauh ini, Jember termasuk relatif aman dari ancaman kekeringan. Namun potensi kekeringan tetap diwaspadai, terutama di lima kecamatan. Yakni Silo, Patrang, Pakusari, Sumberjambe dan Arjasa. "Sumberjambe pada tahun 2018 lalu mengalami masalah kekeringan," ujar Heru.

Namun sejauh ini, pengiriman air bersih baru dilakukan di beberapa kelurahan atau desa yang melaporkan kekurangan air.

"Pengiriman air bersih dilakukan di Kelurahan Patrang dan Bintoro (Kecamatan Patrang), Desa Kaliwining (Kecamatan Rambipuji). Besok kita kirim air di Desa Sidomulyo (Kecamatan Silo)," urai Heru.

Advertisement

Volume pengiriman air tergantung kondisi atau tingkat kekeringan serta jumlah penduduk. "Kalau sedikit, mungkin satu tangki dengan kapasitas 5 ribu liter juga sudah cukup. Itu minimalnya. Bisa ditambah lagi," papar Heru.

Langkah penanganan dan antisipasi kemarau tidak hanya dilakukan lewat droping air bersih. "Antisipasi lain kita siapkan beberapa tandon yang memang sudah ada di beberapa desa untuk menampung air bersih yang kita ambil dari sumber air terdekat, untuk kemudian disalurkan ke warga," papar Heru.

Penanganan dan antisipasi kekeringan dilakukan dengan menggunakan pos anggaran bencana di APBD Jember di tambah bantuan dari Pemprov Jatim. "Tetapi saya tidak bisa berapa total anggarannya untuk bencana di Jember tahun ini," ungkap Heru.

BPBD Jember juga mengimbau segenap masyarakat, jika memang terjadi kekeringan untuk segera cepat melapor agar BPBD segera melakukan tindakan, yakni dengan pengiriman air ke wilayah tersebut.

Baca juga:
Tidak Ada Air, 237 Hektare Tanaman Padi dan Jagung di Kendal Gagal Panen
Kemarau Panjang, 5 Waduk dan 41 Embung di Sragen Mengering
Penampakan Ikan Mati di Waduk Gajah Mungkur akibat Kemarau
Fenomena Makam Lama Bermunculan di Tengah Waduk Gajah Mungkur
Musim Kemarau, Kanal Banjir Timur Surut

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.