Sebab mati masih diselidiki, Orangutan dengan 74 peluru di kepala belum dikubur
Banyak pertanyaan dialamatkan kepada COP mengenai kepastian jumlah peluru senapan angin yang bersarang pada Orangutan itu. "Yang terdeteksi dari hasil rontgen, tidak kurang 130 butir peluru," tegasnya.
Bangkai Orangutan jantan di Kalimantan Timur yang mati mengenaskan dengan 74 peluru dari 130 peluru bersarang di kepala, urung dikubur. Jasadnya masih diawetkan dalam lemari pendingin dan hari ini ditempatkan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, di Jalan Teuku Umar, Samarinda.
Sebelumnya, bangkai Orangutan itu diautopsi di RS Pupuk Kalimantan Timur, di Kota Bontang, selama 4 jam hingga Rabu (7/2) dini hari kemarin. Usai autopsi, bangkai Orangutan malang itu urung buru-buru dikubur.
Tim gabungan masih merasa perlu untuk menunda penguburan. Mengingat, tim masih bekerja melakukan penyelidikan, mengusut kasus kematian satwa primata itu.
"Jadi, jasad orangutan dari hasil autopsi kita bawa ke Samarinda, untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan bersama dengan Balai Gakkum LHK Kalimantan," kata Kasi Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) Dede Nur Hidayat di kantor BKSDA Kalimantan Timur, Jalan Teuku Umar, Samarinda, Kamis (8/2) siang.
Direktur Centre of Orangutan Protection, Hardi Baktiantoro, juga terjun langsung ke Kalimantan Timur, memantau sekaligus mengikuti langsung penyelidikan kematian satwa primata itu.
Dalam kesempatan itu, Hardi menerangkan, banyak pertanyaan dialamatkan kepada COP mengenai kepastian jumlah peluru senapan angin yang bersarang pada Orangutan itu. "Yang terdeteksi dari hasil rontgen, tidak kurang 130 butir peluru," tegasnya.
Hanya saja, dalam perjalanan proses autopsi, tidak memungkinkan bagi dokter hewan COP dan juga medis lainnya yang bertugas mengangkat 130 butir peluru. Di mana 74 di antaranya bersarang di kepala dan menembus tulang.
"Jadi kami cuma bisa mengangkat 48 butir peluru. Tidak mungkin semua, 130 peluru kami ambil. Karena begitu banyak bagian tubuh yang mesti kami cincang-cincang dalam tubuh Orangutan itu," ungkap Hardi.
Yang mengejutkan, dari autopsi ditemukan 3 biji sawit di pencernaan Orangutan itu. "Itu mematahkan teori Orangutan tidak makan biji sawit. Itu artinya, Orangutan ini sangat kelaparan," kata Hardi.
Baca juga:
'Penyelidikan kematian orangutan yang ditembus 130 peluru pertaruhkan nama negara'
Kematian Orangutan Kaltim curi perhatian media asing, rekor peluru terbanyak
Kematian orangutan dan kondisi hutan Kalimantan yang makin memprihatinkan
Tim gabungan selidiki kasus orangutan yang mati dengan 74 peluru di kepala
74 Dari 130 peluru bersarang di kepala orangutan yang mati di Kaltim
Orangutan Kalimantan mati ditembus 100 peluru, telapak kaki kiri hilang
Orangutan mati dibantai tembakan 17 peluru dan tebasan senjata tajam