SAS Institute sebut Cak Imin bertemu Said Aqil sebagai tradisi sungkem biasa
SAS institute berharap pertemuan tak dianggap sebagai pertemuan politis.
Pertemuan antara Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi bahan perbincangan. Bahkan, pertemuan dianggap politis mengingat Cak Imin tengah ramai ingin menjadi calon wakil presiden dalam pemilihan presiden 2019.
Direktur Said Aqil Institute (SAS) Institute Imdadun Rahmat angkat suara terkait pertemuan tersebut. "Begini lho, Kiai Said adalah guru bangsa, dan Cak Imin itu aset bangsa. Dalam NU, tradisi sungkem itu biasa. Pertemuan itu harus dimaknai secara tulus. Bahwa Cak Imin sebagai Santri sungkem kepada kiai, yakni kiai Said," kata Imdadun saat dikonfirmasi, Senin (19/3).
Sementara itu, Imdadun angkat suara pula terkait pertemuan dianggap sebagai bentuk dukungan dari Said Aqil ke Cak Imin dalam gelanggang pemilihan presiden 2019 mendatang. Menurut dia, siapapun yang bertemu dengan Said Aqil maka akan 'diarahkan' sebagai bentuk dukungan.
"Kepada teman-teman untuk tidak men-framing pertemuan di Cilacap secara politis. Sebagai seorang kiai yang diminta pendapatnya oleh santri, harus mendukung. Atau misalnya besok-besok Pak Mahfud MD meminta restu maju Cawapres, pasti Kiai Said juga mendukung," kata Imdadun.
Dia juga menekankan, bahwa pertemuan di Cilacap jangan dimaknai secara organisasional. Antara Ketum PBNU dan Ketum PKB. Pertemuan itu murni kultural antara sosok kiai yang disungkem oleh santrinya.
"Lebih-lebih derajat seorang kiai harus berdiri di atas kepentingan bangsa dan negara," ujarnya.
Baca juga:
PKB tegaskan tak berani ancam Jokowi agar Cak Imin jadi cawapres
Sekjen PKB: Kiai NU dan PKB lebih nyaman dan cenderung ke Jokowi
Cak Imin: Santri zaman now harus mampu menangkan persaingan di segala bidang
PKB tunjuk Cak Imin sebagai wakil ketua MPR
Said Aqil Siroj Institute sebut PBNU restui Cak Imin maju di Pilpres 2019