Saksikan tari Bedhaya Ketawang, PB XIII berurai air mata
Dalam acara Tingalan Jumenengan tersebut, tarian Bedhaya Ketawang disajikan dengan durasi yang lebih singkat. Jika biasanya hingga 2,5 jam, namun kali ini dipersingkat menjadi hanya 30 menit.
Upacara sakral Tingalan Dalem Jumenengan ke 13, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Paku Buwono (PB) XIII, telah usai. Banyak yang berharap setelah momen tersebut kerukunan di keraton Surakarta akan lebih terjalin harmonis.
"Kita tentu berharap momen ini menjadi tonggak bagi kerukunan keluarga keraton. Tidak hanya di Surakarta tetapi juga seluruh keraton di nusantara," ujar Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, saat memberi sambutan.
Sehingga, lanjut dia, ke depan Keraton Surakarta akan menjadi destinasi wisata nasional dan internasional.
Meski berlangsung lancar, namun ada yang luput dari perhatian. Saat berlangsung tarian Bedhaya Ketawang, PB XIII yang duduk di singgasana tampak berulang kali membuka kacamata dan mengusap matanya dengan tisu.
"Sinuhun memang terlihat berulang kali meneteskan air mata. Tadi Gusti Tedjowulan beberapa kali memberikan tisu. Mungkin beliau terharu, sudah lama tidak melihat tarian sakral seperti ini," ucap KPH Suryo Kumolo, yang juga cucu PB XII.
Dalam acara Tingalan Jumenengan tersebut, tarian Bedhaya Ketawang disajikan dengan durasi yang lebih singkat. Jika biasanya hingga 2,5 jam, namun kali ini dipersingkat menjadi hanya 30 menit. Hal tersebut membuat undangan yang hadir sempat bertanya-tanya.
"Memang tarinya dipersingkat, biar bisa dinikmati. Persiapannya juga singkat dan mepet. Ini kan juga baru pertama," tukas Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo.
Baca juga:
Islam Nusantara Center, tempat mengenal perkembangan Islam di RI
Gelar wayang, PDIP ingatkan pentingnya persatuan bangsa
Pawai ogoh-ogoh di Semarang juga diikuti karnaval lintas agama
Tradisi Merdi Bumi di tanah Cilacap
Parade budaya HUT ke-413 Kota Singaraja, puluhan pemuda adat ngamuk
Selamatan Merdi Bumi, wujud rasa syukur hasil panen di Cilacap