Puncak Sekaten, ribuan warga Solo berebut berkah dua gunungan keraton
Puncak perayaan Sekaten, memang ditandai dengan keluarnya dua Gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan) dari keraton. Dua gunungan diarak oleh utusan, sentana dan abdi dalem Raja Surakarta, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII Hangabehi.
Ribuan warga Solo dan sekitarnya memadati komplek Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jumat (1/12) pagi. Dari depan Kori Kamandungan atau pintu utama keraton hingga Masjid Agung yang berjarak 300 meter, massa berdesakan untuk menyaksikan prosesi Sekaten atau Grebeg Mulud dalam rangka peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Puncak perayaan Sekaten, memang ditandai dengan keluarnya dua Gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan) dari keraton. Dua gunungan diarak oleh utusan, sentana dan abdi dalem Raja Surakarta, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII Hangabehi.
Sesampai di Masjid Agung, dua pasang gunungan kemudian didoakan abdi dalem ulama. Usai didoakan, Gunungan Jaler dibawa ke halaman Masjid Agung. Ribuan warga yang datang sejak pagi langsung menyerbu hingga ludes tak tersisa. Sementara satu gunungan lainnya dibawa kembali oleh abdi dalem ke halaman Kori Kamandungan.
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GPH Dipokusumo mengatakan, gunungan tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud syukur raja kepada kawula (rakyatnya).
"Ini wujud syukur Sinuhun untuk rakyatnya. Gunungan Jaler terbuat dari hasil bumi berupa sayuran mentah dan lainnya. Sedangkan Gunungan Estri terbuat dari bahan makanan kering atau rengginang, yang terbuat dari ketan," ujar Gusti Dipo, sebutan akrab GPH Dipokusumo.
Menurut Gusti Dipo, Grebeg Maulud diadakan setiap tanggal 12 Robiul Awal sejak abad ke-14 atau saat zaman Kerajaan Demak. Gunungan Jaler-Estri dalam Grebeg Maulud menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian menghasilkan keturunan.
Tak semua pengunjung bisa mendapatkan isi gunungan yang diperebutkan. Puluhan orang bahkan rela mendapatkan sayuran yang telah terinjak-injak pengunjung lainnya. Sayuran yang didapatkan tersebut lantas dibawa pulang untuk dimasak.
"Saya dapat kacang panjang, nanti sampai rumah dimasak oseng apa sayur bening. Kita yakin dapat berkah dari Allah SWT," kata Lestari (45) warga Benowo, Surabaya.