Puluhan mahasiswa di Solo demo tuntut pembubaran Densus 88
Mereka juga meminta pemerintah memeriksa dan mengaudit setiap kasus yang dilakukan Densus 88.
Demonstrasi menuntut pembubaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali terjadi di Solo. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gema Pembebasan Solo Raya memadati Bundaran Gladag, ujung timur Jalan Slamet Riyadi, Solo, Rabu (16/3).
Mereka membawa berbagai poster dan spanduk berisi tuntutan pembubaran Densus 88. Mereka juga membawa bendera kebesaran organisasi serta bendera lainnya.
Koordinator aksi Rahmadi dalam orasinya mengatakan tindakan Densus 88 sekarang ini lebih mengarah kepada pembasmian para pendakwah Islam, bukan pelaku teror. Kasus meninggalnya Siyono terduga teroris di Klaten, Sabtu pekan lalu dinilai menjadi bukti kebrutalan Densus.
"Dari sekitar 118 terduga teroris yang meninggal karena Densus, hanya tiga orang yang melalui proses hukum. Yaitu Amrozi dan kawan-kawan, yang lainnya mana keadilannya. Ini membuktikan kezaliman dan ketidakprofesionalan Densus dan diskriminatif terhadap umat Islam," tandasnya.
Bambang Pranoto Bayu peserta aksi lainnya mengatakan saat ini hampir tak diperlukan lagi penyelidikan kasus secara mendalam. Sehingga tidak diperlukan lagi pengadilan terbuka.
"Cukup bermodalkan kata 'terduga, terkait, tersangka teroris', nyawa manusia di negeri ini bisa dicabut," katanya.
Di akhir aksinya, para mahasiswa membacakan tuntutannya, yakni pembubaran segera Densus 88. Mereka juga meminta pemerintah memeriksa dan mengaudit setiap kasus yang dilakukan Densus 88. Menghukum dan mengadili aparat Densus 88 yang terbukti melakukan kekerasan dan pembunuhan.
Baca juga:
Ratusan pendemo di Solo desak Jokowi bubarkan Densus 88
Anggota DPR soroti cara kerja Densus 88 kerap siksa terduga teroris
Kapolri diminta tanggung jawab tewasnya Siyono usai dibekuk Densus
Sambangi Mabes Polri, Luhut bahas upaya perbaikan Densus 88
Biar lebih bergengsi, Densus 88 bakal dikucurkan dana Rp 1,9 triliun