Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Biar lebih bergengsi, Densus 88 bakal dikucurkan dana Rp 1,9 triliun

Biar lebih bergengsi, Densus 88 bakal dikucurkan dana Rp 1,9 triliun Densus 88. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dana sebesar Rp 1,9 triliun akan disuntikkan untuk melengkapi persenjataan dan sarana pra sarana termasuk markas serta personel Detasemen Khusus 88 anti teror. Menurut Luhut, penambahan dana tersebut agar personel Densus 88 lebih gengsi.

"Densus teror 88 sedih ini kalau lihat, maka harus diperbaiki dengan dana Rp 1,9 triliun agar lebih bergengsi, penambahan personel dan punya tempat sendiri," kata Luhut saat rapat di Ruang Banggar, Jakarta, Senin (15/2).

Menurut dia, fasilitas peralatan yang dimiliki oleh Densus 88 masih kalah canggih dengan pasukan anti teror negara lain. Oleh sebab itu, pemerintah bersedia mendukung penambahan peralatan dan fasilitas yang dimiliki Densus.

"Saya paling ngotot untuk perbaikan Densus 88, Kopassus, dan Denjaka agar lebih bergengsi," kata dia.

Sebelumnya, Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan merasa miris dengan fasilitas dimiliki tim Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Sebagai tim anti teror, ternyata mereka termasuk kurang diperhatikan.

"Soal Densus 88 ini saya sedih. Fasilitasnya sangat memprihatinkan. Kita sudah bicara sama Kapolri (Jendral Badrodin Haiti) dan Presiden (Jokowi). Kita perlu dukungan untuk seleksi personel, sarana dan prasarana serta penambahan anggaran Densus 88 akan kita lakukan," kata Luhut.

Luhut tengah bersama beberapa menteri lainnya rapat dengan Komisi I dan III DPR. Hadir juga Menteri PAN RB Yuddy Chrisnandi, Badrodin Haiti dan lainnya. Dalam rapat itu, Luhut juga diminta menjelaskan mengenai insiden tentang bom di kawasan Thamrin pada Januari 2016 lalu.

Pihaknya membantah bila insiden itu pemerintah disebut kecolongan. Sebab, kata Luhut, informasi adanya teror telah diendus pemerintah. Meski membantah kecolongan, namun Luhut akui pemerintah tidak mendapat informasi kapan para teroris lakukan eksekusi aksinya.

"Tidak ada istilah kecolongan dari kami. Kami tahu persis perjalanan mereka. Yang kami enggak tahu, di mana dan kapan. Itu makanya kita kejar terus," tandasnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP