LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Promosikan Tenun Ikat Kediri Lewat Pagelaran Busana Bertema Jayabaya

Pagelaran busana The 5th Dhoho Street Fashion (DSF) di Kota Kediri menampilkan berbagai pakaian bertema Pride of Jayabaya. Tahun ini, DSF digelar di hutan kota Kediri, Kamis (5/12). DSF merupakan upaya dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri, mempromosikan tenun ikat lokal ke kancah internasional.

2019-12-05 19:21:25
Budaya Indonesia
Advertisement

Pagelaran busana The 5th Dhoho Street Fashion (DSF) di Kota Kediri menampilkan berbagai pakaian bertema Pride of Jayabaya. Tahun ini, DSF digelar di hutan kota Kediri, Kamis (5/12).

DSF merupakan upaya dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri, mempromosikan tenun ikat lokal ke kancah nasional hingga internasional.

"Memberi inspirasi bagi masyarakat bahwa tenun bisa disajikan dalam busana yang beragam, tak hanya formal tapi juga kasual, baik laki-laki maupun perempuan," kata Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar.

Advertisement

Raja Jayabaya diketahui memerintah kerajaan Kadiri tahun 1135–1157 M. Pada masa inilah slogan yang terkenal Panjalu Jayati atau Kadiri Menang tertuliskan pada Prasasti Hantang.

Prasasti ini sebagai penanda kembalinya Jenggala menjadi bagian dari Kerajaan Kadiri. Panjalu dan Jenggala merupakan wilayah pecahan Kerajaan Kahuripan yang saling berebut kekuasaan usai mangkatnya Raja Airlangga. Selain itu, Jayabaya memberikan warisan berupa ramalan yang terkenal dengan sebutan Jangka Jayabaya. Ramalan-ramalan itu kerap menjadi wacana kekinian.

Bila penggunaan material tenun ikat Kediri semakin banyak, harapannya akan semakin menumbuhkan pasar kain tenun ikat yang diproduksi para perajin tenun di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Advertisement

Selanjutnya akan meningkatkan value dari tenun ikat Kediri sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan para penenunnya. Di sisi lain, penenun muda akan tertarik untuk melanjutkan produksi kekayaan wastra Kota Kediri ini.

Dekranasda Kota Kediri mengundang tiga perancang busana bereputasi nasional untuk tampil di DSF yaitu Priyo Oktaviano (24 outfit), Didiet Maulana (24 outfit), dan Samira M. Bafagih (12 outfit).

Selain ketiga desainer tamu di atas, DSF juga akan memberikan kesempatan kepada desainer lokal dan peserta didik SMK Negeri 3 Kediri untuk menampilkan 4 outfit. Desainer lokal terdiri dari Numansa (4 outfit), Azzkasim (5 outfit), dan Luxecesar (4 outfit).

Kepemimpinan Prabu Jayabaya yang bijak dan tegas menginspirasi Priyo Oktaviano membuat koleksi bertema Neon Future Kediri. Dalam koleksinya kali ini Priyo Oktaviano menampilkan karya dengan gaya yang berani namun tetap elegan menggunakan warna-warna kontras dari kain tradisional tenun ikat tenun kediri.

"Saya mencoba memberikan satu influence untuk anak muda kota Kediri agar berani berpakaian dengan motif tenun lokal Kediri yang bisa di-mix and match sehingga menjadi casual, fun, young, dan modern looks yang tidak meninggalkan khasanah budaya lokal," kata Priyo Oktaviano, desainer kelahiran Kota Kediri.

Berdasarkan penelusuran sejarah, kerajinan tenun ikat yang dibuat secara tradisional dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) telah ada di Kota Kediri sejak awal era 1900-an. Jejak historis keberadaan wastra lokal ini adalah beberapa lembar kain tenun asal Kediri buatan tahun 1910 yang tersimpan sebagai koleksi Tropenmuseum di Amsterdam, Kerajaan Belanda.

Situasi pasang surut mengiringi perjalanan industri tenun di Kota Kediri. Kebangkitan Tenun Ikat Kediri ditengarai terjadi pada tahun 1950-an, ketika pengusaha keturunan Tionghoa dan Arab mendirikan usaha tenun dengan ATBM. Kemudian sempat menurun ketika diterpa badai politik pada tahun 1965. Banyak pengusaha tenun gulung tikar hingga tinggal beberapa yang bertahan.

Tahun 2016, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengeluarkan Peraturan Wali Kota Kediri bahwa seluruh ASN Kota Kediri harus mengenakan pakaian kerja berbahan tenun ikat kediri pada hari tertentu. Dari sanalah, permintaan terhadap tenun ikat Kediri meningkat signifikan.

Baca juga:
UNESCO: Borobudur adalah Contoh Paling Hebat dari Harmonisasi Agama
Hikayat Gandalia, Alunan Musik Petani di Banyumas Untuk Menjaga Lahan
Geger Pengakuannya, Ini 10 Potret Agnez Mo Promosikan Budaya Indonesia
Ngobeng, Tradisi Khas Palembang yang Semakin Tergerus Zaman Kekinian
Joki Cilik Pacuan Kuda Beresiko Tinggi, Budaya yang Harus Dikoreksi
Joki Cilik di Lintasan Berkuda, Tradisi atau Eksploitasi?

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.