Profil Sylvia Sumarlin, Putri Menteri Era Orde Baru Kini Jadi Stafsus Menhan
Sejak tahun 1996, Sylvia aktif memberikan pelatihan internet kepada guru-guru di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Sylvia Efi Widyantari Sumarlin diangkat sebagai Staf Khusus Menteri Pertahanan (Menhan) bidang Cyber Security pada 11 Februari 2025. Pengangkatan Sylvia bersamaan dengan lima orang lainnya, termasuk Deddy Corbuzier.
Menteri Pertahanan (Menhan), Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, penunjukkan Staf Khusus penting untuk meningkatkan kerja sama dalam menjaga kedaulatan negara.
“Pengangkatan Stafsus Menhan ini menegaskan pentingnya kolaborasi peran strategis dalam menjaga kedaulatan, sementara penghargaan yang diberikan menjadi simbol kehormatan bagi mereka yang telah berkontribusi tanpa henti,” jelas dia melalui akun Instagramnya @Sjafrie.Sjamsoeddin.
Siapa Sylvia Sumarlin?
Sylvia merupakan putri dari mantan Menteri Keuangan era Soeharto, Prof. Dr. Johannes Baptista Sumarlin. Perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1963 ini telah membuktikan dirinya sebagai sosok berpengaruh dan inovatif di bidang teknologi.
Sylvia menyelesaikan pendidikan sarjananya (S1) di bidang Ekonomi di Syracuse University, Amerika Serikat. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di universitas yang sama dan meraih gelar Magister di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi (S2).
Meskipun tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang komputer, kecintaannya pada teknologi, yang sudah terlihat sejak masa mudanya saat mengikuti orang tuanya kuliah di Pittsburg, Pennsylvania, telah membawanya pada kesuksesan gemilang di dunia teknologi informasi.
Karier Cemerlang di Dunia Teknologi Informasi
Minatnya pada teknologi internet tumbuh selama masa kuliahnya di Amerika Serikat. Sejak tahun 1996, Sylvia aktif memberikan pelatihan internet kepada guru-guru di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Komitmennya untuk memberdayakan masyarakat terlihat dari upayanya sejak tahun 2001 dalam memberikan akses internet terjangkau kepada masyarakat di daerah terpencil.
Dia juga aktif memberikan pelatihan teknologi dan informasi kepada remaja usia SMP-SMA. Pengalamannya lebih dari dua dekade di bidang ini telah mengukuhkannya sebagai salah satu pelopor industri internet di Indonesia.
Prestasi dan Inovasi
Salah satu pencapaian terbesar Sylvia adalah pengembangan Xirka chipset pada tahun 2008, sebuah prestasi membanggakan bagi Indonesia.
Sebelum berkecimpung di pengembangan chipset, dia memiliki pengalaman yang luas di bidang Internet Service Provider (ISP). Keahlian dan dedikasinya di bidang teknologi informasi juga telah membawanya meraih penghargaan bergengsi, seperti Asia Pacific Communication Technology Award (APICTA) pada tahun 2008.
Dia juga dikenal sebagai Regional Director WIMAX FORUM Indonesia, yang menunjukkan pengakuan internasional atas keahliannya.
Komitmen Sosial dan Budaya
Selain prestasinya di dunia teknologi, Sylvia juga menunjukkan kepedulian terhadap budaya Indonesia. Dia aktif dalam pelestarian kesenian tradisional seperti tari Jawa dan ketoprak.
Hal ini menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap budaya tetap terjaga meskipun dia berkarier di dunia teknologi yang modern.