Polisi Ungkap Alasan Penemuan Kerangka di Gedung ACC Kwitang Butuh Waktu Hampir Dua Bulan
Penemuan kerangka manusia di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat, baru terungkap hampir dua bulan pasca kebakaran. Polisi menjelaskan lambatnya penemuan kerangka ini karena kondisi puing yang sulit diakses dan berbahaya.
Polisi dan tim forensik RS Polri akhirnya mengungkap alasan di balik penemuan dua kerangka manusia di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat, yang baru terjadi hampir dua bulan setelah insiden kebakaran. Penemuan ini mengejutkan publik setelah kebakaran besar melanda gedung tersebut pada akhir Agustus 2024. Kondisi lokasi yang sulit diakses dan tertutup puing menjadi penyebab utama keterlambatan ini.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menjelaskan bahwa tidak adanya kegiatan pembersihan atau pembongkaran di area yang tertimbun puing menjadi faktor krusial. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati pada Jumat (07/11), menanggapi pertanyaan publik mengenai rentang waktu penemuan. Ia menegaskan bahwa keterlambatan ini bukan karena kelalaian petugas.
Kebakaran hebat yang menghanguskan Gedung ACC Kwitang terjadi pada 29 Agustus 2024. Dua hari berselang, tepatnya 2 September 2024, pemilik gedung melapor ke kepolisian dan tim Polres Metro Jakarta Pusat segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) awal. Namun, saat itu tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, karena kondisi bangunan yang sudah hancur dan tertutup material sisa kebakaran.
Alasan Lambatnya Penemuan Kerangka
AKBP Roby Heri Saputra menekankan bahwa rentang waktu hampir dua bulan antara kebakaran dan penemuan kerangka bukan bentuk kelalaian. Kondisi lokasi pasca kebakaran sangat sulit diakses dan tertutup oleh tumpukan puing. Hal ini membuat proses pencarian korban menjadi sangat kompleks dan berisiko tinggi bagi petugas.
Saat olah TKP pertama pada 2 September 2024, tim sudah memeriksa seluruh area gedung yang hangus. Namun, kondisi bangunan yang hancur lebur dan penuh puing membuat keberadaan korban tidak terdeteksi. Hanya terlihat material seperti rangka besi, kayu, plafon yang jatuh, dan bekas AC, tanpa indikasi adanya manusia.
Karakteristik bau di lokasi juga menjadi kendala. Menurut Roby, aroma daging yang terbakar menyeluruh seringkali menyerupai bau kayu atau material lain yang terbakar, sehingga sulit dibedakan. Bahkan, pemeriksaan lanjutan oleh tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri pada 19 September 2024 pun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Petugas keamanan dari pihak gedung juga rutin berpatroli hampir setiap hari, namun tumpukan puing yang menutupi posisi kerangka membuat mereka tidak menyadari adanya sesuatu di bawah reruntuhan. Penemuan baru terjadi pada 30 Oktober 2024, ketika pekerja mulai membongkar puing untuk renovasi, barulah dua kerangka manusia tersebut terlihat.
Kondisi Gedung yang Sangat Berbahaya
Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menegaskan bahwa kondisi Gedung ACC Kwitang pasca kebakaran memang sangat berbahaya untuk dimasuki. Struktur bangunan sudah rapuh dan tidak layak digunakan, sehingga pemilik gedung enggan melakukan aktivitas pembersihan lebih awal. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam penanganan lokasi kejadian.
"Bangunan itu sudah tidak layak digunakan. Saat tim kami masuk, juga harus sangat berhati-hati karena khawatir terjadi reruntuhan," jelas Budi. Pernyataan ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi petugas saat mencoba masuk ke dalam gedung. Kekhawatiran akan adanya reruntuhan memang terbukti, mengingat dua kerangka ditemukan tertimbun puing cukup dalam.
Kondisi berbahaya ini menjadi alasan kuat mengapa proses pembersihan dan pembongkaran puing tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Prioritas keselamatan petugas dan potensi bahaya struktural menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah penanganan lokasi kejadian.
Proses Identifikasi dan Penjelasan Forensik
Proses identifikasi kedua korban kini ditangani oleh tim forensik RS Polri Kramat Jati. Pemeriksaan intensif dilakukan untuk memastikan identitas serta perkiraan waktu kematian korban. Langkah ini krusial untuk memberikan kejelasan kepada keluarga korban dan penyelidikan lebih lanjut terkait penemuan kerangka tersebut.
Karo Labdokkes Polri, Brigjen Sumy Hastry Purwanti, menjelaskan bahwa kedua jenazah ditemukan dalam kondisi sepenuhnya berupa kerangka, dengan hanya sebagian kecil sisa jaringan tubuh yang hangus. "Secara tanatologi atau ilmu yang mempelajari waktu kematian, kami melihat jenazah sudah dalam kondisi kerangka dengan sisa jaringan yang hangus," kata Hastry.
Hastry menambahkan, dalam kondisi lingkungan terbakar, aroma yang muncul di bulan pertama memang menyerupai bau kayu atau material lain yang terbakar, sehingga sulit membedakan bau tubuh manusia. Namun, setelah memasuki bulan kedua hingga ketiga, barulah muncul aroma khas pembusukan yang menandakan keberadaan sisa tubuh manusia.
"Jadi secara ilmiah, penemuan kerangka ini sesuai dengan proses alami perubahan tubuh pasca kebakaran," ucap Hastry. Ia menyimpulkan bahwa kemungkinan saat puing mulai dibersihkan dan dibongkar, muncul bau yang berbeda, yang kemudian mengarah pada penemuan kerangka manusia tersebut. Sebelumnya, RS Polri Kramat Jati mengidentifikasi dua kerangka tersebut sebagai Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan, yang dilaporkan hilang saat kerusuhan akhir Agustus 2024.
Sumber: AntaraNews