Polisi Selidiki Sebab Tumpahnya 7.000 Ton Batu Bara di Perairan Pantai Selatan
Kasat Polair Polres Pandeglang, Iptu David, mengatakan penyelidikan dilakukan untuk lidik investigasi penyebab kecelakaan, apakah faktor human error atau dampak alam. Polisi telah memanggil pihak pemilik dan nahkoda kapal sejak Senin (15/7) kemarin.
Satpolair Polres Pandeglang menyelidiki peristiwa tumpahnya 7.000 ton batu bara dari tongkang Kapal Alfina Nautika 25 di perairan pesisir pantai Selatan, Cicadas, Kabupaten Pandeglang, Banten. Batu bara itu rencananya digunakan sebagai bahan bakar oleh pihak PLTU Labuan.
Kasat Polair Polres Pandeglang, Iptu David, mengatakan penyelidikan dilakukan untuk lidik investigasi penyebab kecelakaan, apakah faktor human error atau dampak alam. Polisi telah memanggil pihak pemilik dan nahkoda kapal sejak Senin (15/7) kemarin.
"Kita masih menunggu dari pihak pemilik kapal dan nahkoda belum mau datang ke kantor," kata David saat dikonfirmasi, Selasa (16/7).
Pemanggilan pihak pemilik dan nahkoda kapal dilakukan karena keterangan 10 saksi dari ABK kapal belum cukup untuk dituangkan dalam laporan.
"Anggota sudah saya perintahkan untuk menjemput langsung pihak perusahaan dan nahkoda kapal," katanya.
Selain itu, Polres Pandeglang bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Banten akan melakukan pengecekan dampak pencemaran lingkungan di wilayah pesisir Cicadas dari tumpahnya ribuan ton batu bara tersebut.
"Dampak pencemaran. Langkahnya kita akan ngambil sampel di laut dicek di lab, kalau ada dampak pencemaran kita akan tindak lanjut," katanya.
Baca juga:
Tongkang Terseret Ombak Pantai Selatan, 7.000 Ton Batu Bara Tumpah ke Laut
Mendorong Pemanfaatan Limbah Pembakaran Batubara Jadi Produk Olahan Lain
Kebijakan Penetapan Harga Batubara untuk Sektor Kelistrikan Berakhir 2019
ABM Investama Reklamasi 68 Persen Lahan Tambang Batubara di Kalimantan
Bayar Bunga Utang, Bumi Resources Tak Bagi Dividen