Polisi geledah kantor First Travel di Depok
Polisi geledah kantor First Travel di Depok. Selain petugas dan karyawan, tidak ada yang diperbolehkan masuk area kantor. Bahkan jemaah korban yang gagal berangkat dan hendak mengambil berkas pun dilarang masuk ke dalam kantor.
Tim penyidik Bareskrim Polri menggeledah kantor First Travel di Jalan Radar Auri, Cimanggis, Depok. Penggeledahan disaksikan beberapa karyawan yang sudah datang sejak pagi.
Rombongan tim penyidik Bareskrim Polri yang datang langsung memasuki kantor. Kendaraan yang mereka tumpangi pun dimasukkan ke dalam halaman parkir kantor dan petugas kepolisian yang diberikan melakukan pengamanan lokasi, langsung menutup gerbang.
Selain petugas dan karyawan, tidak ada yang diperbolehkan masuk area kantor. Bahkan jemaah korban yang gagal berangkat dan hendak mengambil berkas pun dilarang masuk ke dalam kantor.
"Padahal kami hanya ingin nanya dokumen-dokumen saja, mumpung lagi ada karyawannya," kata Mia, calon jemaah umrah First Travel yang gagal berangkat.
Informasi dari petugas kepolisian yang ada di sekitar lokasi penggeledahan, untuk langkah awal, tim penyidik Bareskrim memeriksa data-data di dalam komputer milik First Travel.
"Tadi kita periksa data-data yang ada di dalam komputer dulu. Setelah itu kemungkinan nanti akan berlanjut ke berkas-berkas lainnya," ujar anggota Polisi yang tak bersedia disebut nama dan pangkatnya.
Diakui anggota Polri itu, para karyawan First Travel turut dilibatkan untuk mencari data-data yang diperlukan bagi penyidikan. "Karena mereka kan yang tahu seluk beluk kantor ini, termasuk soal data-data yang ada," ujarnya.
Baca juga:
Kemenag sebut 4 biro haji & umrah mirip First Travel, 2 akan dicabut
Kemenag sudah diingatkan tindak tanduk First Travel sejak 2012
Kembali berkantor, karyawan First Travel dicecar calon jemaah umrah
Kemenag akui masalah First Travel sudah ada sejak 2016
Kuasa hukum First Travel bantah uang jemaah diinvestasi ke Pandawa
Pengacara korban sebut First Travel utamakan jemaah punya 'power'
Kuasa hukum First Travel tak tahu kemana uang miliaran milik jemaah