Polda Kalsel Lestarikan Seni Budaya Banjar Lewat Lomba Madihin dan Hadrah
Polda Kalsel tegaskan komitmen lestarikan seni budaya Banjar melalui lomba Madihin dan Hadrah, menarik ratusan peserta di Banjarbaru dan menjadi agenda berkelanjutan.
Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) menunjukkan komitmen nyata dalam melestarikan seni budaya suku Banjar dengan menggelar lomba Madihin dan Hadrah. Acara yang diikuti oleh 274 peserta ini berlangsung meriah di Lapangan dr Murjani, Kota Banjarbaru, pada Minggu, 21 Juni 2026.
Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga kearifan lokal serta memastikan seni tradisional tetap dicintai oleh generasi muda di tengah gempuran budaya luar. Kapolda Kalsel, Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, menekankan pentingnya kegiatan semacam ini untuk mempertahankan eksistensi budaya Banjar.
Antusiasme yang tinggi dari peserta dan penonton menjadi indikasi kuat bahwa festival seni budaya ini akan menjadi agenda berkelanjutan. Bahkan, Kapolda mengisyaratkan akan memperluas cakupan lomba untuk menyertakan seni budaya Dayak pada tahun mendatang, memperkaya khazanah budaya Kalimantan Selatan.
Antusiasme Tinggi dalam Lomba Madihin dan Hadrah
Lomba Madihin dan Hadrah yang diselenggarakan Polda Kalsel berhasil menarik perhatian banyak pihak. Kasubbid Provos Polda Kalsel AKBP Zaenal Arifien, selaku panitia pelaksana, melaporkan bahwa kompetisi Madihin diikuti oleh 36 peserta yang terbagi dalam 13 tim perwakilan Polri dari berbagai Polres jajaran, serta 7 tim dari kategori masyarakat umum.
Sementara itu, lomba Hadrah mencatat partisipasi yang lebih besar dengan 238 peserta. Mereka terdiri dari 1 tim perwakilan Polri dan 13 tim dari masyarakat umum, menunjukkan betapa populernya seni Hadrah di kalangan masyarakat Banjar. Tingginya jumlah peserta ini mencerminkan semangat masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian seni budaya Banjar.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang, baik dari institusi kepolisian maupun masyarakat umum, menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah silaturahmi dan ekspresi budaya bagi seluruh elemen masyarakat Kalimantan Selatan.
Komitmen Polri Jaga Kearifan Lokal dan Regenerasi Budaya
Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan menegaskan bahwa lomba ini adalah wujud komitmen nyata Polri dalam menjaga kearifan lokal. Beliau mengakui bahwa seni tradisional saat ini rawan tergerus zaman akibat maraknya budaya luar yang mewarnai kehidupan generasi muda.
Oleh karena itu, melalui perlombaan Madihin dan Hadrah, diharapkan eksistensi kedua seni tersebut tetap terjaga dan memotivasi anak muda untuk ikut melestarikannya. "Lomba ini sebagai wujud komitmen nyata Polri dalam menjaga kearifan lokal dengan harapan seni budaya di Kalsel dicintai oleh generasi-generasi muda," ujar Kapolda.
Melihat tingginya antusiasme, Kapolda mengisyaratkan bahwa festival seni budaya ini akan menjadi agenda berkelanjutan dengan skala yang lebih besar. "Ada juga saudara-saudara kita dari Dayak yang hari ini hadir turut meramaikan. Insya Allah tahun depan akan kita lombakan juga seni budaya Dayak," tambahnya. Para pemenang lomba nantinya akan tampil pada acara syukuran Hari Bhayangkara ke-80, yang akan diselenggarakan pada 1 Juli 2026.
Mengenal Lebih Dekat Seni Madihin dan Hadrah Khas Banjar
Madihin dan Hadrah adalah dua kesenian tradisional bernafaskan Islam yang sangat populer di kalangan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Kedua seni ini memiliki ciri khas masing-masing yang menjadikannya unik dan menarik.
Madihin merupakan seni sastra lisan di mana pemainnya menabuh alat musik pukul yang disebut terbang, sambil melantunkan lirik dalam bahasa Banjar. Pertunjukan Madihin seringkali diwarnai dengan humor, nasihat, dan kritik sosial yang disampaikan secara jenaka, menjadikannya hiburan yang digemari.
Sementara itu, Hadrah adalah jenis musik yang dibawakan secara berkelompok dengan lantunan shalawat. Para pemain Hadrah memainkan alat musik rebana yang diiringi dengan gerakan koreografi yang harmonis, menciptakan suasana religius dan penuh semangat. Kedua kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah dan pelestarian nilai-nilai budaya serta agama di tengah masyarakat Banjar.
Sumber: AntaraNews