Persempit kesenjangan sosial agar bibit radikalisme tak tumbuh subur
Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Yudi Latief berharap para mantan narapidana terorisme (napiter) dapat diterima di tengah masyarakat. Selain itu mereka juga harus diberi ruang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Yudi Latief berharap para mantan narapidana terorisme (napiter) dapat diterima di tengah masyarakat. Selain itu mereka juga harus diberi ruang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Kesenjangan sosial yang terlalu lebar harus dipersempit agar bibit radikalisme yang ibarat ranting-ranting kering mudah terbakar tidak mudah tersulut api," kata Yudi dalam keterangannya, Rabu (7/3).
Tidak hanya pemerintah, Yudi pun meminta para pengusaha bisa membantu mempersempit kesenjangan itu. Menurutnya, isu kesenjangan sosial jika dibiarkan terlalu lebar akan banyak menimbulkan konflik.
"Jangan hanya pemerintah, swasta harus ikut terlibat dalam program capacity building terhadap mantan napiter dan korban. Utamanya dalam penyediaan lapangan pekerjaan," tuturnya.
Selanjutnya, ungkap Yudi, karena aksi terorisme ada kaitannya dengan relasi politik di masa lalu, ia berpesan para elite di negara ini tidak menjadikan politik sebagai alat kepentingan jangka pendek. Yudi mengatakan ketika kepentingan tercapai para elite bisa damai, tapi 'limbahnya' di masyarakat tidak mudah dibersihkan.
"Begitu elite sudah bisa bersalaman, konflik di bawah belum tentu berakhir. Jadi hati-hati menggunakan trik-trik atau manuver politik yang berpotensi mengadu domba, mobilisasi, persekusi, dan saling serang menimbulkan korban yang akan melahirkan dendam baru, yang akan mengembangbiakkan terorisme di masa mendatang," jelasnya.
Yudi mengapresiasi langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mempertemukan mantan narapidana terorisme (napiter) dan korban (penyintas) dalam 'Silaturahmi Kebangsaan (Satukan) NKRI'. Menurutnya, ini sebuah cara untuk menghilangkan dendam sekaligus mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme.
"Dengan begitu mereka bisa saling berempati melihat bagaimana kondisi korban, tapi di sisi lain korban juga bisa memahami bahwa aksi-aksi terorisme itu mempunyai akar sosial sebagai penyebabnya," ujar Yudi.
Menurut Yudi, dengan terjadinya silaturahmi itu, diharapkan para mantan napiter benar-benar tersadar dan menyadari kesalahan masa lalunya. Artinya mereka akan menyadari daripada meneruskan atau mengulang aksi-aksi kekerasan yang menimbulkan penderitaan, lebih baik melakukan upaya yang lebih produktif dengan meningkatkan ilmu pengetahuan.
"Daripada membuat aksi-aksi yang hanya akan menimbulkan masalah baru, lebih baik mari bangkit bersama menyelesaikan masalah penanggulangan terorisme ini. Saya kira cara BNPT ini sangat brilian," terangnya.
Ia menilai, silaturahmi seperti itu lebih baik digelar secara terbuka daripada diam-diam yang nantinya menimbulkan kesalahpahaman satu dengan yang lain. Dengan dibuka bisa saling memahami, merasakan, dan saling membantu.
Baca juga:
Di Hari Imlek, Ketua UKP-PIP ingatkan umat beragama jangan sampai dipolitisasi
DPR dan UKP-PIP sepakat kerja sama lakukan legislatif review
Bertemu Yudi Latief & Mahfud MD, Ketua DPR dukung UKP-PIP jadi BPIP
UKP PIP diubah menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
Yudi Latief di depan jemaat Katedral: Hari Natal membawa Indonesia kembali 'hijau'