Perjuangan Penyandang Disabilitas di Surabaya Ikut UTBK Demi Raih Pendidikan Tinggi
Inilah kisah penyandang disabilitas yang berjuang mengikuti UTBK untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Penyandang disabilitas di berbagai daerah sedang berusaha untuk mendapatkan tempat di perguruan tinggi. Di Universitas Airlangga (UNAIR) di Surabaya, Jawa Timur, sejumlah difabel telah berpartisipasi dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Pada hari Selasa, 21 April, sebanyak 22 peserta disabilitas, termasuk mereka yang memiliki disabilitas daksa dan Tuli, mengikuti UTBK di kampus tersebut. Salah satu peserta adalah Muhammad Pasha Fawwazdian, seorang siswa Tuli dari SMAN 16 Surabaya. Ia telah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengikuti ujian ini.
Menurutnya, soal UTBK kali ini memiliki variasi yang cukup, dari yang mudah hingga yang sulit, namun ia merasa mampu untuk menyelesaikannya dengan baik.
"Alhamdulillah saya sudah mempersiapkan UTBK ini dengan sebaik mungkin. Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang gampang, tapi insyaAllah bisa saya kerjakan," ujar Pasha, mengutip laman resmi UNAIR pada Kamis (23/4).
Pasha memilih Program Studi Psikologi karena ketertarikan untuk membantu orang lain, terutama dalam bidang konseling, dan bercita-cita menjadi seorang psikolog di masa depan. Dukungan dari keluarga dan teman-teman menjadi sumber kekuatan utama baginya dalam menjalani proses ini.
"Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai power (kekuatan) dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami perundungan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat," tutur dia.
Dengan semangat dan tekad yang tinggi, ia berharap dapat menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah dan terus berjuang meskipun menghadapi tantangan.
Keterlibatan aktif penyandang disabilitas dalam UTBK menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang sama untuk meraih pendidikan tinggi dan masa depan yang lebih baik.
Berbagi Pengalaman Peserta UTBK Lain
Hal yang serupa juga dialami oleh Khalifah Nisyapuri, seorang peserta disabilitas daksa dari SMAN 4 Sidoarjo. Ia mengaku merasa gugup sebelum ujian dimulai, namun perasaan tersebut perlahan menghilang berkat fasilitas serta bantuan yang disediakan oleh panitia UTBK.
"Awalnya gugup karena takut soalnya sulit, tetapi setelah masuk saya merasa senang. Saya banyak dibantu oleh petugas, mulai dari naik lift hingga masuk ke ruang ujian," jelas dia.
Khalifah sangat mengapresiasi kemudahan akses yang diberikan oleh UNAIR, termasuk dukungan mobilitas dari lantai satu hingga lantai sembilan. Meskipun ia mengakui bahwa soal yang diujikan cukup sulit, ia merasa lega telah menyelesaikan ujian tersebut. Motivasi terbesar bagi Khalifah datang dari melihat banyak mahasiswa disabilitas yang berhasil berprestasi.
"Ternyata kita punya kesempatan yang sama, dan itu keren banget. Pesan saya, jangan takut mencoba dan jangan pernah patah semangat," tandas dia.
Kisah para penyandang disabilitas ini membuktikan bahwa semangat dan tekad dapat melampaui keterbatasan. Dengan dukungan fasilitas yang inklusif dan lingkungan yang ramah, kampus perlu terus berupaya menciptakan akses pendidikan yang setara bagi seluruh calon mahasiswa.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2984057/original/044115000_1575280009-Infografis_Akses_dan_Fasilitas_Umum_Ramah_Penyandang_Disabilitas.jpg)