Perhumas Ingatkan Pentingnya Etika Kehumasan di Era Kecerdasan Buatan
Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto, menekankan pentingnya etika kehumasan di era kecerdasan buatan (AI) untuk menjaga integritas profesi dan kepercayaan publik. Peluncuran kode etik baru menjadi wujud komitmen ini.
Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) melalui Ketua Umum Boy Kelana Soebroto, baru-baru ini mengingatkan pentingnya etika kehumasan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Peringatan ini disampaikan dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025 yang berlangsung di Surabaya.
Profesi kehumasan saat ini tidak hanya berfokus pada komunikasi semata, tetapi juga bertransformasi untuk menjaga harmoni, membangun optimisme, serta menciptakan konektivitas positif bagi bangsa. Peran humas menjadi krusial dalam menghadapi tantangan disrupsi teknologi yang semakin kompleks.
Untuk menjawab dinamika tersebut, Perhumas telah meluncurkan pemutakhiran Kode Etik Perhumas yang memasukkan unsur-unsur terkait teknologi terkini, termasuk AI. Langkah ini menegaskan komitmen organisasi dalam menjaga integritas dan tanggung jawab profesi di tengah perubahan zaman.
Pentingnya Integritas dan Tanggung Jawab di Tengah AI
Boy Kelana Soebroto menjelaskan bahwa kode etik Perhumas yang baru ini menanamkan prinsip kebenaran, transparansi, akurasi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi utama dalam praktik kehumasan yang profesional dan etis.
Ia menegaskan, "Di dalam kode etik ini tertanam prinsip kebenaran, transparansi, akurasi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Dan tentu saja sudah memasukkan unsur-unsur terkait teknologi terkini yaitu artificial intelligence." Hal ini menunjukkan adaptasi terhadap lanskap teknologi yang terus berubah dan dampaknya pada komunikasi publik.
Tantangan hari ini meluas pada destruksi teknologi, termasuk AI dan otomatisasi ruang informasi, yang menuntut praktisi humas untuk lebih cermat. Peluncuran kode etik baru ini merupakan wujud tekad Perhumas dalam menjaga integritas profesi dan memastikan bahwa inovasi yang dilakukan praktisi humas selalu bersifat manusiawi dan bertanggung jawab.
Sentuhan Manusia dan Kurator Kepercayaan Publik
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Fifi Aleyda Yahya turut menyoroti pentingnya sentuhan manusia dalam komunikasi di tengah laju teknologi. Meskipun AI dapat mempercepat proses, peran manusia tetap tak tergantikan dalam menyampaikan pesan yang efektif.
Fifi Aleyda Yahya menekankan, "Teknologi memang boleh cepat, tapi manusia yang memberikan sentuhan, memberikan arah begitu. Jadi tetap unsur manusia ini sungguh sangat penting." Ia mengakui AI dapat membantu menyaring data, namun hanya manusia yang mampu memberikan rasa, empati, dan mengelola persepsi publik dengan kearifan.
Peran sentral humas sebagai penjaga etika dan kurator kepercayaan publik menjadi semakin vital di era digital ini. Humas tidak hanya sekadar penyampai informasi, melainkan juga penafsir hasil kebijakan yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
"Humas bukan hanya penyampai informasi tapi kita semua adalah penafsir hasil kebijakan, penjaga etika dan kurator kepercayaan publik," ujar Fifi. Ini menegaskan bahwa integritas dan kearifan manusiawi adalah kunci dalam membangun serta mempertahankan kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi.
Sumber: AntaraNews