Perbandingan Biaya Mobil Listrik dan Konvensional: Hemat Jauh Menurut KOLEKSI
Ketua Umum KOLEKSI mengungkapkan **biaya mobil listrik** jauh lebih hemat dibandingkan mobil konvensional, didukung infrastruktur SPKLU yang kian masif. Simak perbandingannya!
Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI), Arwani Hidayat, mengemukakan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam biaya penggunaan antara mobil listrik dan mobil konvensional. Perbandingan ini menjadi sorotan utama bagi calon konsumen yang mempertimbangkan transisi ke kendaraan ramah lingkungan. Pernyataan ini disampaikan Arwani saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Kamis (09/4).
Menurut Arwani, pengguna kendaraan listrik (EV) dapat menikmati penghematan biaya operasional yang substansial. Hal ini menjadi daya tarik utama di tengah meningkatnya kesadaran akan efisiensi dan keberlanjutan. Data yang dipaparkan KOLEKSI memberikan gambaran jelas mengenai potensi penghematan tersebut.
Perbedaan biaya ini tidak hanya mencakup konsumsi energi, tetapi juga didukung oleh perkembangan infrastruktur pengisian daya. Peningkatan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan layanan pengisian daya di rumah turut memperkuat argumen efisiensi mobil listrik. Kondisi pasar dan isu global juga diprediksi akan semakin mendorong adopsi kendaraan elektrik di Indonesia.
Perbandingan Biaya Operasional Kendaraan
Arwani Hidayat menjelaskan bahwa untuk konsumsi dalam kota, rata-rata pengguna EV menghabiskan sekitar Rp250 per kilometer. Angka ini meningkat sedikit untuk penggunaan luar kota, yakni sekitar Rp350 per kilometer, terutama untuk EV dengan daya yang cukup besar. Perkiraan biaya ini menunjukkan efisiensi yang tinggi dari kendaraan listrik dalam penggunaan sehari-hari.
Sebaliknya, biaya operasional mobil konvensional jauh lebih tinggi. Arwani menambahkan, jika menggunakan mobil konvensional, biaya di dalam kota bisa mencapai Rp1.000 per kilometer, dan untuk perjalanan luar kota sekitar Rp1.200 per kilometer. Perbedaan ini menciptakan selisih yang signifikan dalam pengeluaran bulanan bagi pemilik kendaraan.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa mobil listrik menawarkan keuntungan finansial yang menarik dari sisi biaya operasional. Meskipun harga akuisisi awal mobil listrik mungkin masih menjadi pertimbangan, penghematan jangka panjang dari konsumsi energi menjadi faktor penentu. Analisis biaya ini penting bagi konsumen untuk membuat keputusan yang terinformasi.
Perkembangan Infrastruktur Pendukung Mobil Listrik
Selain biaya operasional yang lebih rendah, sarana pendukung penggunaan mobil listrik di Indonesia kini sudah meningkat pesat. PT PLN (Persero) bersama para mitra telah berperan aktif dalam menyediakan infrastruktur pengisian daya yang memadai. Dukungan infrastruktur ini krusial untuk kenyamanan dan kepercayaan pengguna EV.
Menurut informasi resmi, PLN bersama mitranya telah menghadirkan 4.655 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai daerah. SPKLU ini tercatat telah tersedia di 3.007 lokasi pada tahun 2025. Peningkatan jumlah dan sebaran SPKLU ini memudahkan pengguna EV untuk mengisi daya di perjalanan.
Tidak hanya itu, PLN juga menyediakan layanan Home Charging Services (HCS) untuk memudahkan pengisian daya di rumah. Hingga akhir 2025, tercatat 70.250 pelanggan telah menggunakan layanan HCS ini. Ketersediaan opsi pengisian daya di rumah dan di luar rumah ini sangat mendukung ekosistem kendaraan listrik.
Dinamika Pasar dan Faktor Pendorong Adopsi EV
Arwani Hidayat menyampaikan bahwa pada awal tahun ini, pertumbuhan pengguna mobil listrik sempat melambat. Perlambatan ini disebabkan oleh kekhawatiran sebagian konsumen mengenai kemungkinan pencabutan insentif dalam pembelian kendaraan elektrik. Isu pencabutan insentif memang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan pelaku industri.
Namun, Arwani memprediksi bahwa pada kuartal kedua bulan April ini, pertumbuhan pengguna mobil listrik kemungkinan besar akan kembali meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada mobil konvensional. Kenaikan harga BBM ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kenaikan harga bahan bakar minyak akibat ketegangan geopolitik tersebut bisa menjadi pendorong kuat bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan elektrik. Efisiensi biaya yang ditawarkan mobil listrik menjadi semakin menarik di tengah fluktuasi harga energi global. Kondisi ini berpotensi mempercepat adopsi EV di Indonesia.
Sumber: AntaraNews